5 Orang Dari Luar Mekah Yang Beriman Kepada Rasulullah

5 Orang Dari Luar Mekah

Alomuslim.com – Beberapa bulan setelah kembali dari Thaif, tepatnya pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 10 kenabian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kembali ke Mekah dan memulai kembali berdakwah menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah dan juga kepada setiap individu. Bertepatan pada bulan itu, banyak orang-orang dari luar Mekah yang datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. tetapi ibadah haji yang dilakukan pada saat itu belum seperti ibadah haji yang ditetapkan oleh syariat Islam, lebih tepatnya mengikuti budaya jahiliyah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggunakan kesempatan tersebut untuk berdakwah dengan mendatangi kabilah demi kabilah. Diantara kabilah yang didatangi adalah kabilah Bani Kalb, Bani Hanifah dan Bani Amir bin Sha’sha’ah. Tetapi tidak satupun dari mereka yang menyambut baik ajakan Rasulullah.

Disamping menawarkan kepada kabilah dan delegasi yang datang ke Mekah, beliau juga berdakwah menemui individu demi individu untuk menawarkan Islam kepada mereka. Sebagian diantara mereka ada yang menanggapinya secara baik, bahkan ada diantara mereka yang sampai beriman kepada beliau, selang beberapa saat setelah berlalunya musim haji. Diantara mereka yang beriman adalah :

  1. Suwaid bin Shamit

Dia adalah seorang penyair yang cerdas, salah seorang penduduk Yatsrib (Madinah, sebelum fase hijrah). Dia dijuluki al-Kamil (orang yang sempurna) oleh kaumnya. Julukan ini diberikan karena faktor warna kulitnya, keindahan syair ciptaannya, kebangsawanannya dan nasabnya. Ketika itu dia datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan masuk Islamnya terjadi sekitar awal tahun ke 11 kenabian, setelah musim haji.

  1. Iyas bin Mu’adz

Dia merupakan seorang pemuda belia dari Yatsrib, yang datang ke Mekah bersama delegasi suku Aus, dalam rangka mengupayakan persekutuan dengan Quraisy untuk menghadapi kaum mereka dari suku Khazraj. Rasulullah menemuinya dan mengajaknya kepada Islam. Kemudian, Iyas menyeru kepada kaumnya untuk mengikuti ajakan Rasulullah, tetapi kaumnya menolak hingga melemparinya dengan kerikil dan pasir.

  1. Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar radhiyallahu anhu berasal dari suku Ghifar, yang juga termasuk penduduk Yatsrib, tetapi berada di pinggiran kota tersebut. Boleh jadi setelah mendengar tentang kabar diutusnya seorang Rasul di Mekah yang disebarkan oleh Suwaid bin Shamit dan Iyas bin Mu’adz, membuat Abu Dzar tertarik untuk memeluk Islam.

Kemudian Abu Dzar berangkat ke Mekah seorang diri untuk mencari kebenaran tentang Nabi yang pernah di dengarnya. Beruntung ketika itu dia bertemu dengan Ali radhiyallahu ‘anhu, yang kemudian menceritakan tentang Nabi tersebut dan segera mengajaknya untuk bertemu kepada Rasulullah. Maka setelah bertemu dengan Rasulullah, Abu Dzar segera menyatakan diri untuk beriman. Abu Dzar merupakan salah seorang sahabat yang mulia, ahli ibadah dan juga banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

  1. Thufail bin Amr ad-Dausi

dia adalah seorang yang terpandang, penyair kawakan dan seorang pimpinan kabilah Daus. Kabilahnya memiliki keemiratan, semacam kesultanan, di sebagian wilayah pinggiran Yaman. Dia datang ke Mekah pada tahun ke 11 kenabian. Dia memeluk Islam setelah mendengarkan Rasulullah membacakan sebagian ayat dari Al Qur’an kepadanya. Menurutnya, apa yang didengarnya itu lebih indah dari semua syair yang pernah dia dengar

Setelah bersyahadat, Rasulullah mendoakan Thufail agar Allah memberinya tanda agar dia bisa mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Kemudian ketika ia kembali ke Yaman, diapun mendakwahkan Islam kepada keluarga dan kaumnya, sehingga sebanyak 70-80 orang menerima ajakannya.

  1. Dhimad al-Azdi

Dia berasal dari suku Azd Syanu’ah dari Yaman, yang merupakan seseorang yang biasa mengobati penyakit. Ketika tiba di Mekah, dia mendengar para begundal yang mengatakan Rasulullah adalah orang gila. Diapun merasa terpanggil untuk berusaha menyembuhkan Rasulullah, ketika itu dia belum tahu bahwa para begundal itu sedang berdusta tentang Rasulullah.

Ketika bertemu Rasulullah, diapun menyampaikan maksudnya untuk mengobati beliau. Lalu Rasulullah menjawabnya dengan ucapan puji-pujian kepada Allah, Dhimad terkesima dan meminta Rasulullah mengulangi ucapannya sampai tiga kali. Dia berkata, “sungguh aku telah mendengar bagaimana ucapan para dukun, para tukang sihir dan para penyair. Aku tidak pernah mendengar untaian seperti ini..” kemudian diapun berbaiat kepada Rasulullah.

Wallahu a’lam. 

Referensi : Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *