Inilah 7 Adab Ketika Buang Hajat

adab ketika buang hajat

Inilah 7 Adab Ketika Buang Hajat Pernahkah anda mengalami rasa kebelet yang sudah tidak tertahankan, kemudian mendapati sebuah pohon di pinggir jalan, lalu anda tunaikan hajat anda ditempat tersebut? Mungkin hal seperti itu seringkali dialami oleh kaum laki-laki. Dengan alasan sulit menemukan toilet, akhirnya mereka melakukannya di pinggir jalan, bahkan terkadang tidak mempedulikan orang-orang yang lewat di dekatnya.

Apakah anda pernah memperhatikan, bahwa hal tersebut telah melanggar tuntunan syariat Islam?

Maka perhatikanlah beberapa adab buang hajat berikut, agar anda selamat dari hal-hal yang terlarang.

Baca Juga : Jangan Remehkan Bersuci Ketika Buang Air Kecil

1. Menjauhi Tempat Yang Dilarang

Sebaiknya ketika seseorang buang hajat, ia mencari tempat yang sepi dari manusia dan jauh dari pengelihatan mereka. Selain itu juga tidak buang hajat di tempat yang biasa digunakan untuk orang berjalan atau tempat berteduhnya mereka.

Larangan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

“Hindarilah oleh kalian dua perkara penyebab laknat!!, para sahabat bertanya, ‘Apakah dua perkara itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang buang hajat di jalan yang sering dilalui orang-orang dan (buang hajat) di tempat bernaungnya (berteduhnya) orang-orang’.” (HR. Muslim no. 269, Abu Dawud no. 25)

2. Larangan Buang Hajat di Air Yang Tergenang

Biasanya seseorang akan mencari sungai atau sumber-sumber air agar ia dapat menggunakan air tersebut untuk Istinja’ (cebok), sehingga kemudian ia menunaikan hajatnya diatas air tersebut. Larangan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, dari Rasulullah  :

“Bahwasanya beliau melarang seseorang kencing di air tergenang.” (HR. Muslim no. 281, Ahmad III/350, dan yang lainnya)

3. Tidak Menghadap Ataupun Membelakangi Kiblat

Dari sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiallahu anhu, bahwa  Rasulullah  bersabda :

“Jika kalian memasuki tempat buang hajat, janganlah kalian menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya (ketika buang hajat)..” (HR. Bukhari no. 394, Muslim no. 264, dan yang lainnya)

4. Menutup Diri Ketika Buang Hajat

Amalan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Ja’far radhiallahu anhu, ia berkata : “Suatu hari aku di bonceng di belakang Rasulullah dan beliau membisikan sebuah hadits kepadaku yang aku tidak akan menceritakannya kepada seorangpun. Adapun tempat yang disukai oleh Rasulullah untuk menutup diri ketika buang hajat adalah (di balik) hadfu (gundukan) dan ha’isy nakhl, yaitu di kebun kurma.” (HR. Muslim no. 342, Abu Dawud no. 2549, dan yang lainnya)

Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan, ‘Dari hadits ini, dapat difahami bahwa disunnahkan menutup diri saat buang hajat, seperti di kebun kurma, di (balik) gundukan, atau di cekungan tanah, dan selainnya, dimana ia tidak terlihat oleh orang lain. Perkara ini adalah sunnah mu’akkadah (yang sangat ditekankan).’ (Syarh Shahih Muslim IV/35)

5. Buang Air Kecil Sambil Jongkok

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu anha, ia berkata :

“Siapa saja yang menceritakan kepada kalian bahwa Rasulullah kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian membenarkannya. Tidaklah beliau kencing melainkan sambil jongkok.” (HR. An-Nasa’i I/26, At-Tirmidzi no. 12, Ibnu Majah no. 307)

Akan tetapi ada hadits shahih yang menerangkan bahwa Rasulullah  pernah buang air kecil sambil berdiri. Sehingga ulama menjelaskan bahwa dibolehkannya buang air kecil sambil berdiri apabila terpenuhi dua syarat : Pertama, aman dari terkena percikan najisnya. Kedua, aman dari pandangan orang lain.

6. Tidak Istinja’ (Cebok) Dengan Tangan Kanan

Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah  bersabda :

“Janganlah salah seorang diantara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika kencing, dan janganlah membasuh (cebok) setelah buang hajat dengan tangan kanannya serta janganlah ia bernafas dalam bejana.” (HR. Bukhari no. 153,154, Muslim no. 267 dan Ibnu Majah no. 310)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pelarangannya hanya sebatas makruh dan sebagai adab, bukan haram secara mutlak.

7. Tidak Berbicara Ketika Buang Hajat

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah  bersabda :

“Jika dua orang laki-laki buang hajat, maka hendaklah saling menutup diri dan janganlah keduanya saling bercakap-cakap ketika buang hajat. Sungguh, Allah murka atas perbuatan seperti itu.” (HR. Abu Dawud)

Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Shahih Fikih Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *