Akhir Dari Pemboikotan Kaum Quraisy Terhadap Keluarga Rasulullah

Akhir Dari Pemboikotan Kaum Quraisy Terhadap Keluarga Rasulullah

Alomuslim.com – Setelah kabilah-kabilah Quraisy bersekutu untuk memboikot siapapun yang melindungi Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, terutama mereka yang berasal dari bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib serta Rasulullah dan para sahabatnya, harus hidup dalam kesusahan dan kelaparan, sehingga sebagiannya menderita sakit bahkan sampai kehilangan nyawa. Kurang lebih pemboikotan berlangung hampir selama 3 tahun.

Menyaksikan penderitaan yang dialami oleh orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, sebagian pemimpin Quraisy mulai merasa kasihan. Mereka melihat ketidakkeadilan yang sangat nyata, dimana para kabilah-kabilah Quraisy bisa menikmati makanan enak, mengenakan pakaian bagus, bisa menikmati kegembiraan bahkan boleh menikahi siapapun. Sementara saudara-saudara mereka dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib tidak dapat merasakan itu semua, bahkan harus hidup lebih menderita lagi karena diputus semua oleh kabilah-kabilah Quraisy.

Diantara pemimpin Quraisy tersebut mulai berpikir untuk mengakhiri masa pemboikotan dan membatalkan perjanjian yang dibuat oleh kabilah-kabilah Quraisy. Para pemimpin Quraisy itu adalah Hisyam bin Amr, Zuhair bin Umayyah, Al Muth’im bin Adi, Abu Bakhtari bin Hisyam dan Zam’ah bin Al Aswad bin Al Muthalib.

Mereka berlima bersepakat untuk membatalkan perjanjian dan segera menghentikan pemboikotan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Akhirnya mereka menyampaikan maksudnya kepada kaum Quraisy di Baitullah, tetapi pada saat itu ada Abu Jahal, ia dengan keras menolak keinginan mereka untuk membatalkan pemboikotan.

Pada saat itu turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, yang mengambarkan bahwa surat perjanjian tersebut telah rusak dimakan oleh rayap, dan hanya menyisahkan tulisan ‘Bismika Allaahumma’ (dengan nama-Mu ya Allah). Kemudian Rasulullah menyampaikan hal tersebut kepada pamannya, Abu Thalib, yang dengan segera meneruskannya kepada para pemuka Quraisy yang sedang berdebat itu.

Abu Thalib menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Abu Thalib berkata jika hal itu benar, maka ia meminta orang-orang Quraisy untuk segera menghentikan pemboikotan, tetapi jika ternyata kabar itu dusta, maka ia akan menyerahkan Rasulullah kepada orang-orang Quraisy.

Orang Quraisy sepakat, mereka segera melihat surat perjanjian tersebut. Dan ternyata keadaan surat perjanjian tersebut persis seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Maka pada saat itulah, orang-orang Quraisy membatalkan perjanjian dan segera menghentikan pemboikotan. Sementara itu, keadaan orang yang menulis surat perjanjian tersebut, yakni Manshur bin Ikrimah, tangannya lumpuh sebagai adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Referensi : Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam (Akbar Media : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *