Apakah Ada Kewajiban Zakat Untuk Perhiasan
DASAR ISLAM, ZAKAT

Apakah Ada Kewajiban Zakat Untuk Perhiasan ?

Alomuslim.com – Apakah Ada Kewajiban Zakat Untuk Perhiasan ? Para ulama dari masa lalu dan ulama masa kini, berbeda pendapat mengenai zakat perhiasan menjadi beberapa pendapat. Dua diantara pendapat yang paling banyak diambil oleh para ulama, adalah :

1. Tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan emas dan perak yang biasa dipakai oleh wanita

Pendapat ini adalah yang diambil oleh mayoritas ulama, diantaranya para sahabat Rasulullah  yakni, Ibnu Umar, Jabir, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhumma.

Diantara beberapa dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat ini adalah atas apa yang dilakukan oleh para sahabat, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang memakaikan perhiasan emas pada anak-anak perempuannya namun tidak membayarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 585, Al Baihaqi 4/138)

Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengetahui keponakan perempuannya yang yatim dan tinggal dirumahnya memiliki perhiasan, namun dia tidak mengeluarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 584, Abdur Razak 4/83)

Demikian halnya dengan Asma, bahwasanya dia tidak mengeluarkan zakat perhiasan. Mereka mengatakan bahwa zakat diwajibkan pada harta yang tumbuh dan menghasilkan, adapun perhiasan yang tidak tumbuh dan berkembang tidak ada kewajiban zakat atasnya. Ia di anggap sama seperti pakaian. Berbeda jika perhiasannya di tabung atau diperdagangkan, maka perhiasan itu dikenakan zakat.

Pendapat ini adalah yang diambil oleh mayoritas ulama, diantaranya para sahabat Rasulullah  yakni, Ibnu Umar, Jabir, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhumma.

Diantara beberapa dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat ini adalah atas apa yang dilakukan oleh para sahabat, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang memakaikan perhiasan emas pada anak-anak perempuannya namun tidak membayarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 585, Al Baihaqi 4/138)

Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengetahui keponakan perempuannya yang yatim dan tinggal dirumahnya memiliki perhiasan, namun dia tidak mengeluarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 584, Abdur Razak 4/83)

Demikian halnya dengan Asma, bahwasanya dia tidak mengeluarkan zakat perhiasan. Mereka mengatakan bahwa zakat diwajibkan pada harta yang tumbuh dan menghasilkan, adapun perhiasan yang tidak tumbuh dan berkembang tidak ada kewajiban zakat atasnya. Ia di anggap sama seperti pakaian. Berbeda jika perhiasannya di tabung atau diperdagangkan, maka perhiasan itu dikenakan zakat.

Pendapat ini adalah yang diambil oleh mayoritas ulama, diantaranya para sahabat Rasulullah  yakni, Ibnu Umar, Jabir, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhumma.

Diantara beberapa dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat ini adalah atas apa yang dilakukan oleh para sahabat, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang memakaikan perhiasan emas pada anak-anak perempuannya namun tidak membayarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 585, Al Baihaqi 4/138

Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengetahui keponakan perempuannya yang yatim dan tinggal dirumahnya memiliki perhiasan, namun dia tidak mengeluarkan zakatnya. (Shahih. HR. Malik no. 584, Abdur Razak 4/83

Demikian halnya dengan Asma, bahwasanya dia tidak mengeluarkan zakat perhiasan. Mereka mengatakan bahwa zakat diwajibkan pada harta yang tumbuh dan menghasilkan, adapun perhiasan yang tidak tumbuh dan berkembang tidak ada kewajiban zakat atasnya. Ia di anggap sama seperti pakaian. Berbeda jika perhiasannya di tabung atau diperdagangkan, maka perhiasan itu dikenakan zakat.

2. Diwajibkan zakat pada perhiasan dari emas dan perak secara mutlak

Pendapat kedua mewajibkan zakat pada semua perhiasan dari emas dan perak secara mutlak, apabila keduanya telah mencapai nisab dan melewati batas haul, baik dipakai sebagai perhiasan, disimpan atau dipersiapkan untuk di perdagangkan.

Hadits yang menjelaskan tentang kewajiban zakat perhiasan dan ancaman keras bagi mereka yang tidak melaksanakannya, diataranya :

1. Bahwa ada seorang perempuan yang mendatangi Nabi  dengan membawa anak perempuannya yang mengenakan dua gelang besar dari emas di tangannya, maka beliau berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mengeluarkan zakat barang ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Makan beliau bersabda :

“Apakah engkau mau Allah mengenakanmu dua gelang dari api neraka lantaran benda tersebut?”  perempuan tersebut kemudian melepas keduanya dan memberikannya kepada Nabi  seraya berkata, ‘keduanya sekarang milik Allah dan Rasul-Nya.’ (Shahih. HR. Abu Dawud no. 1563, An Nassa’i 5/38, At Tirmidzi no. 637 dan Ahmad 2/178)

2. Aisyah pernah mengenakan cincin-cincin besar yang terbuat dari perak, kemudian Rasulullah  bertanya, ‘Apakah itu wahai Aisyah?’ Aku menjawab, ‘Aku membuatnya untuk berhias untukmu wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau menunaikan zakatnya?’ Aku jawab, ‘Tidak.’ Atau perkataan yang serupa. Kemudian beliau bersabda,

“Hal itu cukup untuk memasukanmu ke Neraka.” (Hasan. HR. Abu Dawud no. 1656, Ad Daruquthni 2/105, Hakim 1/389, dan Al Baihaqi 4/139)

Kedua pendapat ini merupakan pendapat terkuat diantara pendapat-pendapat yang lainnya, keduanya memiliki dalil yang shahih dari Nabi dan para sahabat. Namun sebagai tindakan kehati-hatian, anda dapat menunaikan kewajiban zakat atas perhiasan yang anda miliki apabila telah mencapai nisab dan melewati batas haus.

Wallahu ‘alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *