apakah darah termasuk najis
BERSUCI, DASAR ISLAM

Apakah Darah Termasuk Najis ?

Alomuslim.com – Apakah Darah Termasuk Najis ? Sebagian umat muslim terkadang tidak menyadari ketika sedang shalat ternyata dibagian tubuh atau pakaiannya ada darah yang menempel. Hal tersebut jelas akan mempengaruhi keabsahan shalatnya. Oleh karenanya kita harus paham mengenai status hukum darah, apakah ia suci atau termasuk najis?

Maka penjelasannya adalah sebagai berikut. Darah dibagi menjadi tiga bagian :

1. Darah Haid

Darah Haid najis hukumnya menurut kesepakatan para ulama. Hal ini berdasarkan hadits dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha, ia berkata, ‘Seorang perempuan pernah datang kepada Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Baju salah seorang diantara kami ada yang terkena darah haid, lalu apakah yang harus diperbuat?’ Maka beliau menjawab,

“Hendaklah dia mengeriknya, kemudian menggosoknya dengan air, dan menyiramnya, setelah itu shalatlah dengannya.” (HR. Bukhari no. 227, Muslim no. 291)

2. Darah Manusia

Mengenai darah manusia, ada perbedaan pendapat antara para ulama, namun pendapat yang masyhur menurut ulama ahli fikih bahwa darah adalah najis. Para ulama yang berpendapat tentang kenajisan darah, berdalil dengan apa yang termaktub dalam Al Qur’an.

“Katakanlah : Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.” (QS. Al An’am : 145)

Para ulama memandang bahwa hukum haram yang terdapat dalam ayat tersebut menunjukkan kenajisannya, hal ini sebagaimana mereka lakukan pada khamer (Alkohol). Hukum ini tidak hanya dinukil dari satu orang ulama saja, namun hukum najis ini adalah sebuah ijma’.

Sementara sebagian ulama kontemporer, seperti diataranya Al Albani dan Al Utsaimin rahimahullah, mereka berpendapat bahwa darah adalah suci, hukum ini diambil karena tidak adanya kesepakatan tetap diantara para ulama. Adapun dalilnya antara lain :

  1. Al Hasan berkata, ‘Kita dapati umat Islam tetap melaksanakan shalat walaupun masih dalam keadaan terluka.” (HR. Bukhari 1/336)
  2. Peristiwa yang terjadi pada seorang sahabat Al Anshari pada saat melaksanakan shalat malam, dia dipanah oleh orang musyrik, kemudian dia mencabutnya dan meletakkan anak panah itu hingga ia terkena panah sebanyak tiga kali, kemudian dia ruku’ dan sujud hingga menyelesaikan shalatnya, sementara darahnya masih bercucuran. (HR. Bukhari 1/336)

Kedua pendapat ini memiliki penguat masing-masing sehingga dalam masalah ini umat muslim boleh mengikuti keduanya berdasarkan pilihan yang diyakininya. Wallahu ‘alam.

3. Darah Hewan yang Dimakan Dagingnya

Dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisan darah tersebut, sehingga hukumnya dikembalikan kepada hukum asal, yakni suci. Pendapat ini diperkuat dengan dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, dia berkata :

“Nabi pernah melaksanakan shalat di rumahnya, sedangkan Abu Jahal dan para sahabatnya sedang duduk, mereka saling berbicara hingga ada yang mengatakan, ‘Siapakah diantara kalian yang –berani- mengambil hewan sembelihan si fulan, kemudian mengambil kotoran, darah dan kotorannya, lalu datang dengan membawa semua itu.

Setelah itu mendekatinya (Nabi ) dengan pelan-pelan, dan ketika sujud dia meletakkannya diatas pundaknya. Maka bangkitlah orang yang paling jahat diantara mereka –untuk melakukan apa yang diisyaratkan, ketika Rasulullah sedang sujud ia meletakkan- kotoran-kotoran tersebut diantara pundak beliau, namun beliau tetap diam dalam keadaan bersujud, lalu mereka tertawa.” (HR. Bukhari no. 240, Muslim no. 1794)

Demikian penjelasan mengenai tentang status hukum darah. Semoga umat muslim bisa menyikapi perbedaan pendapat yang terdapat didalamnya dengan mengedepankan adab kepada para ulama dengan tidak mengecilkan pendapat yang tidak diikutinya.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *