Apakah Niat Puasa Harus Diucapkan Dengan Keras?

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Seperti sudah menjadi hal yang diharuskan, setiap kali selesai mengerjakan shalat tarawih, seseorang akan memimpin dengan suara keras mengucapkan niat puasa Ramadhan untuk esok hari, yang kemudian diikuti oleh para jamaah lainnya. Hal ini sangat banyak kita temui di masjid-masjid di lingkungan kita. Apakah mengucapkan niat puasa harus dengan cara dikeraskan seperti itu?

Pertama, mari kita telusuri darimana sumbernya ucapan niat puasa yang diucapkan dengan suara keras tersebut. Keterangan yang kami pahami, munculnya anjuran melafalkan niat ketika beribadah, berawal dari kesalah-pahaman terhadap pernyataan Imam As-Syafi’i terkait tata cara shalat. Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:

“….shalat itu tidak sah kecuali dengan an-nuthq.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3:277)

An nuthq artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian ulama Syafi’iyah memaknai an nuthq di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau rahimahullah. Dijelaskan oleh Imam An Nawawi, bahwa yang dimaksud dengan an nuthq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan an nuthq ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah takbiratul ihram’.” (Al Majmu’, 3:277).

Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan, “Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika takbiratul ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

Karena kesalah-pahaman ini, banyak ulama yang mengklaim bermadzhab syafiiyah di tempat kita, yang kemudian mengajarkan lafal niat ketika shalat. Selanjutnya masyarakat memahami bahwa itu juga berlaku untuk semua amal ibadah. Sehingga muncullah lafal niat wudhu, niat tayamum, niat mandi besar, niat puasa, niat zakat, niat sedekah, dst. Sayangnya, ulama tersebut tidak mengajarkan lafal niat untuk semua bentuk ibadah. Di saat itulah, banyak masyarakat yang kebingungan, bagaimana cara niat ibadah yang belum dia hafal lafalnya?

Itu artinya, anjuran melafalkan niat yang diajarkan sebagian dai, telah menjadi sebab timbulnya keraguan bagi masyarakat dalam kehidupan beragamanya. Padahal ragam ibadah dalam Islam sangat banyak. Tentu saja, masyarakat akan kerepotan jika harus menghafal semua lafal niat tersebut. Padahal bukankah Islam adalah agama yang sangat mudah?

Bagaimana Seseorang Berniat Puasa?

Inti niat adalah keinginan. Selama seseorang sudah memiliki keingingan yang pasti untuk melakukan satu amal tertentu maka dia sudah berniat. Tidak ada redaksi niat yang khusus, seperti yang banyak diucapkan oleh kaum muslimin, “Saya berniat puasa besok karena Allah.” Redaksi semacam ini tidak ada dalilnya. Karena itu, melafalkan niat semacam itu tidak perlu dilaksanakan.

Jika sebelumnya seseorang sudah berkeinginan untuk berpuasa, maka orang tersebut sudah dianggap berniat. Akan tetapi, jika ia tidak punya keinginan untuk berpuasa, kemudian di pagi hari, ia tidak makan dan tidak minum bukan karena puasa, maka itu belum dinilai sebagai puasa karena orang tersebut belum berniat.

Perintah Berniat Puasa Setiap Malam

Dari Hafshoh Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” [HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, An Nasai no. 2333, dan Ibnu Majah no. 1700) Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Irwaul Gholil 914 (4: 26)]

Muhammad Al Khotib berkata, “Berdasarkan hadits ini niat juga harus ada di setiap malam. Karena puasa hari yang satu dan lainnya adalah ibadah tersendiri. Jika satu hari puasa batal, maka tidak membatalkan lainnya.” (Al Iqna’, 1: 405).

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Referensi :

  • Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc – Rumaysho.com
  • Ustadz Ammi Nur Baits – Konsultasi Syariah.com

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like