Pengertian Asuransi Syariah Dalam Islam

Pengertian Asuransi Syariah Dalam Islam – Dalam tulisan yang telah lalu, kami penah menjabarkan mengenai haramnya asuransi konvensional. Berikut ini kami akan sampaikan mengenai hukum asuransi syariah menurut dalil-dalil shahih dan juga pendapat para ulama kontemporer.

Sungguh, seorang muslim meyakini bahwa syariat islam dibuat oleh Allah ﷻ, Sang Pencipta segala yang ada di langit dan dibumi, maka segala yang telah ditetapkan tidak akan memberatkan umatnya. Ketetapan tersebut akan menjadi ujian keimanan bagi umatnya, apakah mereka taat atau menentangnya dengan memperturutkan hawa nafsunya?

Merupakan akidah umat muslim, bahwa ketika Allah ﷻ mengharamkan sesuatu, pasti akan diberikan ganti dengan yang jauh lebih baik dengan apa yang telah diharamkan tersebut. Semisal dengan pengharaman khamr (minuman beralkhohol), maka disisi lainnya Allah ﷻ menggantinya dengan minuman yang sangat menyehatkan dan membawa banyak manfaat, seperti susu.

Oleh karena itu, ketika syariat islam dan para ulama telah mengharamkan asuransi konvensional, maka muncullah penggantinya yang terbebas dari riba, gharar (spekulasi), qimar (judi) dan dari sisi bisnispun menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hal ini megingat bahwa asuransi merupakan kebutuhan manusia di abad modern agar kehidupan mereka lebih tentram dalam menghadapi resiko di hari esok.

Apa Itu Asuransi Syariah

Asuransi Syariah atau dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan ta’min islami, yaitu kesepakatan sekelompok orang yang menghadapi resiko tertentu untuk mengurangi dampak resiko yang terjadi, dengan cara membayar kewajiban atas dasar hibah yang mengikat, sehingga terhimpun dana.

Baca Juga : Hukum Asuransi Menurut Islam

Dana ini memiliki tanggungan tersendiri yang digunakan untuk membayar ganti rugi para peserta asuransi syariah atas resiko yang terjadi, sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Dana ini dikelola dewan yang ditunjuk oleh para pemegang polis, atau sebuah perusahaan jasa dengan akad wakalah (pelimpahan kuasa) untuk mengendalikan dana atau untuk mengembangkan dana.

Berikut beberapa penjelasan bahwa asuransi syariah terhindar dari unsur-unsur muamalat yang diharamkan, yaitu :

1. Asuransi Syariah Bebas Dari Riba

asuransi syariah bebas dari riba
Asuransi Syariah Bebas Dari Riba

Pada asuransi konvensional terdapat riba, karena terjadi tukar menukar uang dengan uang dengan nominal yang berbeda dan tidak tunai, sementara dalam asuransi syariah memiliki akad hibah (sumbangan), berbeda dengan asuransi konvensional menggunakan akad bai’ (jual-beli), yang dimaksudkan untuk saling membantu dan meringankan beban anggota yang terkena resiko yang dipertanggungkan dan bukan bertujuan untuk mencari keuntungan antara nasabah atau persuhaan asuransi. Dan menurut tinjauan fikih, bila akadnya bertujuan untuk membantu dan semata-mata  berbuat baik maka hal yan dilarangpun dapat dibolehkan.

2. Asuransi Syariah Bebas Dari Gharar

asuransi syariah bebas dari gharar
Asuransi Syariah Bebas Dari Gharar

Seperti penjelasan diatas, bahwa dalam akad yang bertujuan untuk membantu maka hal yang dilarangpun dibolehkan, sehingga gharar dalam akad hibah dibolehkan. Keberadaan gharar dalam akad asuransi syariah tidak berpengaruh dan merusak akad.

Sumber pendalilan untuk pembolehan adanya riba dan gharar dalam akad hibah, adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu¸ Nabi ﷺ bersabda :

“Sesungguhnya orang-orang dari suku Asy’ari apabila kekurangan makanan dalam pertempuran atau kurang persediaan makanan mereka di Madinah, masing-masing mereka mengumpulkan seluruh makanan yang mereka miliki pada sehelai kain. Kemudian mereka mebagi rata makanan tersebut untuk mereka. Mereka adalah bagian dariku dan aku juga bagian dari mereka.” (HR. Bukhari, Muslim)

Dalam riwayat diatas, mengandung unsur riba dimana makanan yang diberikan seseorang berbeda jumlahnya dengan yang diterima setelah dibagi rata. Juga terdapat gharar, dimana masing-masing mereka tidak mengetahui berapa jumlah makanan yang akan diterima setelah dia memberikan sumbangan. Inilah yang menjadi salah satu hujjah dibolehkannya riba dan gharar dalam urusan saling membantu.

Insyaa Allah dalam artikel berikutnya, akan kami tuliskan mengenai prinsip-prinsip dasar asuransi syariah yang sesuai dengan syariah, untuk memberikan gambaran lebih jelas mengetahui hukum penghalalan atas asuransi syariah. Wallahu Ta’ala A’lam

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *