Atha’ Bin Abi Rabah, Mantan Budak Yang Menjadi Ulamanya Dinasti Bani Umayyah

Atha’ bin Abi Rabah

Alomuslim.com – Atha’ bin Abi Rabah merupakan seorang ulama besar yang hidup di masa beberapa orang Khalifah dari Dinasti Bani Umayyah. Atha’ merupakan seorang berkulit hitam, berambut keriting dan mempunyai sedikit kekurangan fisik pada kaki dan matanya. Semasa tinggal di Mekah, dia menjadi budak dari seorang wanita bernama Habibah binti Maisarah bin Abu Hutsaim.

Tatkala melihat semangat Atha’ dalam menuntut ilmu dan berkhidmat pada agama Allah, maka sang tuanpun berinisiatif membebaskannya dan mengharap balasan pahala disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah menjadi seorang yang merdeka, Atha’ tidak menyianyiakannya, dia menghabiskan waktu-waktunya untuk menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Atha’ mereguk manisnya berbagai hikmah dan warisan Nabi dari para sahabat yang mulia, diantaranya Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan para sahabat lainnya radhiyallahu anhumma. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Atha’ belajar kepada dua ratus orang lebih sahabat Nabi. Maka tidak mengherankan, Atha’ menjadi seorang ulama besar.

Beberapa orang sahabat pernah memuji keilmuan Atha’, diantaranya adalah seperti yang diucapkan oleh Ibnu Abbas, ketika datang ke Mekah kemudian ada seseorang yang mengajukan pertanyaan kepadanya. Lalu beliau menjawab, ‘Wahai penduduk Mekah, kalian berkumpul dan meminta fatwa kepadaku padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Abi Rabah’.

Kealiman dan keulamaan Atha’ diakui oleh beberapa orang khalifah Dinasti Bani Umayyah. Hingga Atha’ diangkat menjadi seorang mufti (pemberi fatwa) untuk musim Haji pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, bahkan sang khalifah melarang orang lain untuk memberikan fatwa. Selain itu Atha’ juga dipercaya untuk memberikan nasehat bagi sang khalifah.

Pernah suatu kali pada musim haji, Atha’ mendatangi khalifah untuk menyampaikan kepentingan umat yang ketika itu sedang bersantai diatas kasur tempat duduk raja sambil dikelilingi para pembesar Bani Umayyah. Mengetahui kedatangan Atha’, sang khalifah spontan menyambut kedatangannya dengan hangat dan ucapan salam penghormatan.

Sang khalifah mengajaknya duduk bersama di atas kasur miliknya, namun Atha’ menolaknya dan menginginkan untuk duduk di depannya. Kemudian Atha’ menyampaikan semua kebutuhan umat yang diamanahkannya. Sang khalifah berjanji untuk memenuhi semua yang disampaikan Atha’ tersebut. Kemudian, sang khalifah menanyakan kepada Atha’ apa yang menjadi kebutuhan pribadinya dan berjanji akan memenuhinya. Kemudian Atha’ berkata, “Saya tidak meminta kepada makhluk akan kebutuhan saya”.

Atha’ bin Abi Rabah wafat pada tahun 114 Hijriyah, pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik, yang merupakan saudara dari khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Referensi :

  • Biografi Atha’ Bin Abi Rabah, (Kisah Muslim)
  • Video Ceramah Kisah Luar Biasa Atha Bin Abi Rabah, Khalid Basalamah, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *