qadha puasa
PUASA

Bagaimana Mengqadha Puasa Yang Terlewat?

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

qadha puasa
Bagi anda yang meninggalkan puasa karena memiliki uzur seperti sakit, safar, atau haid bagi wanita, maka wajib menqadhanya setelah bulan Ramadan dengan sejumlah hari yang ditinggalkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala ;

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [QS. Al-Baqarah : 185]

Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Aisyah radhiallahu anha. Ia berkata,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ – تعني : الحيض – فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Kami dahulu mengalami haid, maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari, no. 321, Muslim, no. 335)

Seseorang yang melewatkan puasa Ramadhan, dia boleh melakukan qadha setelah Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, baik secara berturut-turut atau terpisah-pisah. Tapi perlu diingat, jangan sampai mengqadha puasa di hari terlarang, seperti : Idul Fitri, Idul Adha, dan hari tasyrik. Tidak boleh juga mengakhirkan qadha setelah Ramadan berikutnya kecuali jika ada uzur.

Adapun jika seseorang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur, maka ada dua kondisi ;

Pertama, jika orang tersebut memang sudah bertekad untuk tidak berpuasa sejak malam dan tidak ada niat untuk mengerjakan puasa pada siang hari Ramadhan.

Hal seperti itu tidak sah baginya melakukan qadha. Karena puasa adalah ibadah sementara yang memiliki waktu. Siapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka tidak sah qadhanya setelah waktunya telah lewat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang beramal suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami, maka dia tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718)

Kedua, jika seseorang sudah niat berpuasa sejak malam hari dan sudah mulai berpuasa pada siang hari Ramadhan. Namun kemudian dia membatalkan di siang hari tanpa uzur, maka orang seperti ini wajib mengqadha puasa hari itu. Karena telah memulainya menjadikan masalah ini seperti nazar, sehingga wajib diqadha (kalau ditinggalkan). Karena itu, Nabi shallallahu alaihiwa sallam memerintahkan orang yang melakukan jimak pada siang hari di bulan Ramadan untuk mengqadha hari itu. Lalu beliau bersabda,

صُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ

“Berpuasalah sehari sebagai penggantinya.” (HR. Ibnu Majah, no. 1671, dinyatakan shahih Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

Apabila membatalkan puasa di siang hari tanpa uzur dengan jimak, maka wajib baginya mengqadha, dan selain qadha, harus membayar kafarat. Karena itu, siapa yang membatalkan puasanya tanpa uzur, hendaknya dia bertaubat kepada Allah Ta’ala dan menyesali perbuatannya serta bertekad tidak mengulanginya lagi serta memperbanyak amal saleh, baik berpuasa sunah atau lainnya. Misalnya firman Allah Ta’ala,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sungguh Aku maha pengampun bagi siapa yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh, kemudian dia mendapat petunjuk.” (QS. Thaha: 82)

Sebagai catatan, seseorang yang mengqadha puasa diperbolehkan berpuasa tanpa sahur, baik karena disengaja atau karena ketiduran. Karena sahur bukan syarat sah berpuasa. Yang lebih penting adalah berniat sebelum subuh karena ini termasuk syarat sah puasa.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

  • Ustadz Ammi Nur Baits, Konsultasi Syariah
  • Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid, Islamqa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *