Bagian Harta Zakat Untuk Badan Pengelola Zakat

Alomuslim.com – Pembayaran harta zakat telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan ketentuan yang sangat jelas, yakni kepada delapan kelompok. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an, yakni :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah ; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 60)

Berdasarkan keterangan ayat diatas, Amil (pengelola) zakat juga berhak mendapatkan bagian dari harta zakat. Bagi pengelola zakat yang menerima harta zakat tidak disyariatkan adanya sisi kefakiran, karena dia menerima zakat dengan pekerjaannya, bukan lantaran kefakirannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Harta zakat tidak diperbolehkan bagi orang kaya, kecuali bagi lima golongan (diantara mereka) – diantaranya disebutkan – amil zakat. (HR. Abu Dawud 1635, Ibnu Majah 1841)

Berapa Bagian Harta Zakat Untuk Pengelola Zakat?

Menurut Imam Asy-Syafi’i, pengelola zakat tidak berhak diberi bagian zakat melebihi seperdelapan dari jumlah harta zakat yang terkumpul, jika upah untuk kerja ini melebihi seperdelapan, maka hendaknya penguasa mengambil dari Baitul mal sebagai tambahan untuk melengkapi upah tersebut.

Sementara menurut madzhab Hanafi, berpendapat bahwa bagian dari harta zakat boleh diberikan kepada pengelola zakat sesuai kadar kerjanya, diberikan kepadanya dan para pengurus lainnya dan tidak diukur dengan harga (upah kerja), tidak boleh melebihi setengah dari harta zakat yang terkumpul, sekalipun kerjanya melebihi jumlah tersebut.

Tetapi jika yang menjadi pengelola zakat adalah seorang pemimpin atau kepala daerah, maka dia tidak boleh mengambil sedikitpun dari bagian harta zakat tersebut, karena dia telah mengambil upahnya dari baitul mal atau dari negara. Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Comment