Bai’at Aqabah, Sumpah Setia Kaum Anshar Kepada Rasulullah

Alomuslim.com – Pada musim haji tahun ke-13 kenabian, datanglah sebanyak lebih dari 70 orang kaum muslimin yang berasal dari Madinah, yang ketika itu masih dikenal dengan nama Yatsrib. Mereka datang bersama rombongan para jama’ah dari kaum mereka yang masih musyrik. Pada musim haji tahun ke-12, sebagian mereka telah membuat janji dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk bertemu pada musim haji berikutnya, yang tahun ke-13.

Tatkala mereka tiba di Mekah, terjadilah kontak rahasia antara mereka dengan Rasulullah yang bersepakat untuk berkumpul pada hari-hari Tasyriq di sisi Aqabah, tempat dimana terdapat al-Jumrah al-Ula di Mina. Pertemuan tersebut akan dilaksankan dalam suasana sangat rahasia di tengah kegelapan malam.

Akhirnya malam itu, keluar sebanyak 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan dan berkumpul di celah dekat Aqabah. Mereka menunggu kedatangan Rasulullah, yang ketika itu didampingi oleh paman beliau, al-Abbas bin Abdul Muthalib, yang ketika itu masih memeluk agama kaumnya. Setelah peserta lengkap, dimulailah dialog untuk mengesahkan perjanjian persekutuan religi dan militer.

Kaum Anshar, yang berasal dari suku Aus dan Khazraj, diminta untuk berbai’at kepada Rasulullah untuk bersumpah setia dan selalu melindungi beliau. Bai’at inilah yang menjadi salah satu penguat bagi Rasulullah dan para sahabat untuk hijrah ke Madinah. Kaum Anshar menanyakan perihal apa mereka membai’at Rasulullah. Kemudian beliau menyampaikan lima point bai’at :

  1. Untuk mendengarkan dan taat (loyal), baik di dalam kondisi semangat maupun malas.
  2. Untuk berinfaq di dalam masa sulit maupun mudah.
  3. Untuk berbuat amar ma’ruf dan nahi munkar
  4. Untuk senantiasa tegak di jalan Allah, tanpa mempedulikan celaan orang selama dilakukan di jalan Allah.
  5. Untuk membelaku manakala aku datang kepada kalian, dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri, istri-istri dan anak-anak kalian.

Jika hal ini kalian lakukan, maka surgalah sebagai imbalan bagi kalian. (hasan. HR. Ahmad 3/322, al-Baihaqi 9/9)

Mereka berkata, ‘Kalau begitu, kami akan mengambilnya sekalipun (dengan resiko) harta kami musnah dan para pemuka kami terbunuh karenanya. Wahai Rasulullah! Apa imbalan bagi kami dalam hal itu bilama kami dapat menepatinya?’ Beliau menjawab,“Surga.” Lalu mereka berkata, ‘Bentangkan telapak tanganmu!’ Kemudian beliau membentangkan telapak tangannya dan merekapun mebai’atnya.

Setelah penetapan point-point bai’at dan setelah adanya penegasan dan kepastian, maka dimulailah akad bai’at dengan cara saling bersalam-salaman. Kecuali kepada dua orang perempuan yang ikut berbai’at, mereka hanya menyampaikan dengan ucapan saja. Karena Rasulullah tidak ingin menjabat tangan wanita yang bukan mahram. Bai’at ini merupakan sumpah setia kaum Anshar untuk melindungi Rasulullah dan berkorban di jalan Allah.

Referensi : Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)

Leave a Comment