Beberapa Persoalan Umum Mengenai Zakat Hewan Ternak

Alomuslim.com – Terdapat beberapa perkara yang dipersilisihkan oleh para ulama dalam kewajiban zakat terhadap hewan ternak. Diantaranya adalah dalam pembahasan mengenai hewan ternak yang masih kecil, seperti fashilan (bayi unta), ajajil (bayi sapi) dan hamlan (bayi kambing), apakah ia dikenakan wajib zakat?

1. Pendapat Pertama

bayi-bayi dari hewan tersebut masuk dalam kategori nisab dan wajib dizakati. Jika semuanya masih kecil, maka hendaknya dikeluarkan zakatnya dari salah satu bayi-bayi hewan tersebut.

2. Pendapat Kedua

bayi-bayi dari hewan tersebut masuk dalam kategori nisab, namun tidak dikenakan wajib zakat kecuali jika terdapat induk-induknya, baik induk-induk tersebut telah mencapai nisab dengan sendirinya (hanya menghitung induk), maupun tidak.

Dua pendapat diatas berdasarkan dalil dari hadits Umar radhiallahu anhu,

“Masukkanlah sakhalah dalam hitungan yang terdapat pada penggembala (pemiliknya) dan janglah kau mengambimua (sebagai zakat yang dikeluarkan).” (hasan. HR. Malik no. 600, Asy-Syafi’i no. 651 dan Ibnu Hazm 5/275)

Sakhalah adalah bayi domba biri-biri dan kambing bandot yang baru dilahirkan, baik itu jantan maupun betina.

3. Pendapat Ketiga

apabila induk-induk hewan tersebut mencapai nisab, maka keberadaan bayi-bayi yang terhitung melebihi nisab tersebut hendaknya dimasukkan dalam hitungan hewan yang dimiliki dan wajib dizakati. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

4. Pendapat Keempat

Ibnu Hazm berpendapat bahwa hewan yang masih bayi, yang belum layak disebut kambing, akan tetapi masih dinamakan kharuf, jadiy atau sakhalah (kambing anak), tidak boleh dikeluarkan sebagai zakat, kecuali jika telah mencapai umur satu tahun. Jika telah genap satu tahun, maka masuk dalam hitungan wajib zakat dan dapat dikeluarkan sebagai zakat.

Mayoritas ulama memahami bawah yang tidak diambil sebagai hewan zakat adalah yang masih menyusui, maka tidak ada halangan untuk memasukkannya dalam hitungan hewan yang dikenakan wajib zakat (yang wajib dizakati).

Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Comment