Sikap Seorang Muslim Terhadap Pemimpin
SERBA-SERBI

Beginilah Seharusnya Sikap Seorang Muslim Terhadap Pemimpin

Alomuslim.com – Dalam kehidupan bermasyarakat umat muslim diharuskan mengangkat seorang pemimpin ditengah-tengah mereka, terlebih lagi dalam kehidupan bernegara. Dan hal itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Para ulama dari generasi shaleh terdahulu pernah mengungkapkan sebuah nasihat yang sangat penting bagi umat muslim hari ini, “Tujuh puluh tahun berada dibawah pemipin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.” 

Pemimpin negara merupakan sosok yang sangat penting dalam menjaga keamanan rakyat dan stabilitas negara. Jika bangsa aman, maka kehidupan bermasyarakat akan penuh kedamaian serta umat Islam akan merasakan ketenangan dalam beribadah. Tetapi jika ternyata pemimpin yang berkuasa tidak sesuai dengan kehendak rakyat, seringkali mereka akan keluar berteriak-teriak di jalan dengan berkelompok, membongkar semua aib pemimpinnya dan tidak ada lagi keinginan untuk taat, meskipun dalam hal yang baik.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Pemimpin

Sikap seperti itu tidaklah sesuai dengan syariat Islam, karena itu hendaknya setiap muslim mengetahui adab terhadap pemimpin agar menjadi rakyat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perhatikanlah beberapa sikap seorang muslim yang seharusnya terhadap pemimpin, berikut ini :

1. Mentaati Pemimpin Dalam Kebajikan

Ta’at kepada pemimpin adalah suatu kewajiban, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai -orang yang beriman’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian.” (QS. An Nisa’ : 59)

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, juga bersabda :

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat perunjukku (dalam ilmu, ed) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, ed). Nanti akan ada ada di tengah-tengah mereka orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”

Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?’ Beliau bersabda, ‘Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847)

Tetapi kewajiban taat kepada pemimpin hanyalah dalam hal yang baik, tidak ada ketaatan terhadap hal yang mengajak kepada maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7257)

2. Menghormati dan Memuliakannya

Keadaan umat muslim senantiasa dalam kebaikan selama mereka memuliakan penguasa dan ulama, karena jika dua orang ini dimuliakan maka akan baik dunia dan akhirat mereka, dan jika keduanya diremehkan maka akan rusak dunia dan akhirat mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barangsiapa yang memuliakannya maka Allah akan memuliakan orang itu, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut.” (shahih. HR. Ahmad 5/42, At-Tirmidzi no. 2225)

3. Menasehati Dalam Keadaan Rahasia

Seorang muslim ketika menasihati pemimpin hendaknya dilakukan dalam keadaan rahasia, sehingga tidak menyebabkan terbukanya aib dan tersebarnya fitnah. Dan sebaiknya yang menasehati pemimpin adalah orang yang memiliki ilmu dan pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi, bukan orang bodoh yang di penuhi hawa nafsu.

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

“Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin maka janganlah ia memulai dengan terang-terangan, namun hendaknya ia ambi tangannya, kemudian bicara empat mata. Jika diterima, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya.” (shahih. HR. Ahmad 3/303, Ath-Thabrani 17/367)

4. Mendoakan Pemimpin

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Disisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudaranya, ed). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata, ‘Aamiin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya’.” (HR. Muslim no. 2733)

Imam Ahmad rahimahullahu berkata, ‘Saya selalu mendoakan penguasa siang dan malam agar diberikan kelurusan dan taufik, karena saya menganggap itu suatu kewajiban.’ (As-Sunna Al-Khallal, al. 82-83)

Maka umat muslim haruslah memperhatikan, apabila mereka mendoakan kejelekan atau mencaci maki pemimpin, sesungguhnya mereka telah menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, dan apakah dengan melakukan yang seperti itu mereka akan memperoleh kebaikan?

5. Bersabar Terhadap Pemimpin Yang Zalim

Seorang muslim wajib mentaati pemimpin, walaupun mereka berbuat zalim. Jika kita keluar dari ketaatan kepada mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezaliman yang diperbuat oleh pemimpin tersebut. Karena sesungguhnya kezaliman tersebut tidaklah menimpa seseorang melainkan disebabkan oleh kerusakan yang ada pada diri seorang muslim.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

6. Ingatlah : Semakin Baik Rakyatnya, Maka Semakin Baik Pula Pemimpinnya

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu alaihi was sallam tidak?’

Ali menjawab, ‘Karena pada zaman Nabi shallallahu alaihi was sallam yang menjadi rakyat adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian’.”

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap muslim mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan berusaha mengubah pemimpin yang ada. Hendaklah setiap muslim mengubah dirinya dalam hal : akhlaq, ibadah dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla berikut ini :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’du : 11)

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Etika Terhadap Pemimpin, Ustad Abu Bakar
  • Ta’at Pada Pemimpin Yang Zalim, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *