Beginilah Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri-Istrinya – Alomuslim

Beginilah Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri-Istrinya

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri-Istrinya

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri – Rasulullah SAW mendapatkan predikat dari Allah SWT sebagai Uswatun Hasanah, yang artinya teladan yang baik bagi seluruh umat. Apapun yang datangnya dari Rasulullah adalah cerminan sikap yang baik untuk ditiru. Seperti halnya firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab, ayat 21, yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al Ahzab – 21)

Begitu besar keutamaan Rasulullah, hingga saat beliau marah pun sikapnya yang lemah lembut tetap yang lebih terlihat mencolok. Marahnya Rasulullah adalah marah yang paling utama, niatnya tiada lain demi kebaikan umat dan agama, bukan karena nafsu dan amarah. Tak terkecuali ketika beliau harus tegas kepada istri-istrinya. Ya! kepada istrinya.

Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya, “bagaimana bisa Rasulullah marah kepada istrinya? Kalau begitu, berarti Rasulullah juga pernah mengalami hiruk pikuk permasalahan rumah tangga?” Jawabannya adalah iya!

Rasulullah adalah manusia biasa, manusia biasa yang istimewa. Beliau hidup seperti layaknya kita, yaitu makan, minum, bekerja, tidur, dan berumah tangga. Adapun beliau bertikai dengan istrinya, karena keutamaan sikap beliau, Rasulullah tetap bisa mengendalikan amarah dan berlaku lemah lembut kepada istrinya meskipun terkadang beliau juga memperlihatkan ketegasannya. Namun, yang jelas sikap Rasulullah saat marah kepada istri benar-benar berbeda dengan sikap orang pada umumnya.

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri

1. Mengusir Marah dengan Memeluk Istri Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri memeluk

Dalam sebuah hadits diriwayatkan satu kisah ketika Rasullullah sedang ada sedikit perselisihan dengan istrinya, Aisyah Ra. Rasulullah marah kepada Aisyah karena beliau (Aisyah) terus saja memelihara rasa cemburunya kepada Khadijah Ra, istri pertama Rasulullah yang saat kisah itu terjadi beliau (khadijah) sudah wafat.

Di tengah rasa kemarahannya, Rasulullah berkata kepada Aisyah Ra supaya istrinya tersebut memjamkan matanya.”Pejamkanlah matamu!” Lalu kemudian Rasulullah SAW mendekat ke arah Aisyah Ra berdiri. Setelah tubuh beliau berdua berdekatan, Rasulullah SAW memeluk istrinya tersebut seraya berucap,”Ya Khumairaku, rasa marah telah pergi usai aku memelukmu.” (HR Muslim)

Mampukah kita seperti Rasulullah SAW? Dimana ketika istri merajuk, beliau yang marah justru memeluk istrinya dengan kasih sayang untuk mengusir amarah yang bisa lebih memperumit masalah. Pasti sangat sulit!

2. Menegur dengan Tegas

Rasulullah SAW sangat memahami situasi, beliau begitu dimana harus tegas dan kapan harus menyikapi peristiwa denagn kelembutan. Seperti saat beliau menegur Aisyah Ra yang kala itu tidak sengaja mengucapkan kata yang kurang pantas kepada orang lain.

Saat itu Aisyah Ra, mengatakan dengan sedikit candaan jika salah satu istri Rasulullah yang bernama Shafiyah memiliki tubuh yang pendek. Rasulullah yang mendengar perkataan istrinya itupun langsung menegur dengan kalimat yang cukup tegas.

Sungguh, Kau telah mengatakan satu perkataan yang bila bercampur dengan air di lautan maka akan rusaklah laut tersebut.” (HR.Tirmidzi)

3. Menyentuh Wajah Istri dengan Kasih Sayang

Aisyah Ra memang sangat terkenal diantara para istri Rasulullah lainnya, beliaulah yang paling memiliki sifat pencemburu. Suatu ketika tumbuh rasa cemburu Siti Aisyah Ra kepada istri pertama Rasulullah, Khadijah Ra. Diantara istri-istri Rasulullah lainnya, memanglah Siti Kahdijah Ra yang membuat sang Ummul Mukminin cemburu.

Aisyah Ra memang tidak pernah bertemu denagn Khdijah, tapi karena Rasulullah pada kesempatan apapun seringkali menyebut-nyebut nama Khadijah maka timbulah rasa cemburu bersemi di hati Aisyah.

Suatu hari kecemburuan sang Ummul Mukminin kepada Khadijah datang, beliau bahkan sampai berkata bahwa Khadijah adalah seorang wanita tua, dan Allah telah memberikan pernggantinya yang lebih baik untuk Rasulullah.

Mendengar perkataan Aisyah Ra, beliau Rasulullah lalu memencet hidung istrinya tersebut, seraya berkata,” Ya Humaira, bacalah do’a: Wahai Rabbku, ampuni dosa-dosaku, hilankan kerasnya hatiku, dan lindungi aku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

4. Berdiam Diri

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri berdiam diri

Kisah kecemburuan istri Rasulullah tak berhenti sampai disitu. Seorang istri Rasulullah yang bernama Maria pernah dicemburui oleh istri Rasulullah lainnya, yakni Aisyah dan Hafsah. Maria memanglah seorang wanita yang memiliki kecantikan yang memukau dengan kulitnya yang putih bersih.

Suatu ketika, Aisyah dan Hafsah pernah berkata bahwa Ibrahim, anak Rasulullah dengan Maria (meninggal di usia 9 bulan) tidak memiliki wajah yang mirip dengan ayahnya (Rasulullah). Mendengar perkataan itu seketika Rasullah marah dan mengambil sikap untuk berdiam diri terhadap kedua istrinya tersebut.

Rasulullah bersikap seperti itu berdasarkan dengan firman Allah yang tertuang di Al-Qur’an surat An-Nisa ayat ke 34, yang artinya : “Dan istri-istri yang kalian khawatirkan akan nusyuz hendaklah kau memberinya nasehat pada mereka, tinggalkanlah mereka di temapt tidur, kalau perlu pukullah mereka.

Benar saja, Rasulullah melaksanakan peritnah Allah SWT dengan mendiamkan para istrinya yang melupakan nasihatnya. Sikap Rasulullah itu beliau lakukan utnuk memberi efek jera untuk keduda istrinya tersebut.

5. Memaafkan Kesalahan Istri

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri menegur

Manusia tak luput dari kesalahan, dan Allah SWT swelalu membuka lebar pintu maafnya. Itulah yang mejadi pedoman Rasulullah ketika ada istrinya yang berbuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak.

Seperti dikisahkan dalam hadits riwayat muslim, kala itu Rasulullah pulang dari melaksanakan Jihad. Aisyah yang telah lama menunggu kepulangan Rasulullah segera menyambut suami yang amat dicintainya tersebut. Lalu beliau Aisyah Ra, membuatkan segelas minuman manis kepada Rasulullah SAW.

Aisyah yang duduk menunggu di samping berharap Rasulullah memberikan sisa separuh minuman kepada dirinya, seperti kebiasaan yang sering dilakukan oleh Rasulullah. Namun, lama menunggu Rasulullah tidak juga memberikan minumannya pada Aisyah. Aisyah pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW,”Ya Rasulullah, biasanya engkau meberi sebagian minuman itu kepadaku, tapi mengapa hari ini tidak engkau berikan gelas itu?

Rasulullah terus saja melanjutkan minumnya, Aisyah mengulangi pertanyaannya sampai 3 kali, hingga ketika minuman tinggal sedikit barulah Rasulullah memberikan gelas berisi minuman itu kepada Aisyah. Aisyah segera meneguk airnya, tapi sesaat kemudian ia memuntahkannya kembali. Ternyata Aisyah baru sadar, bahwa beliau salah mencampurkan garam pada minuman tersebut hingga rasanya asin.

Begitu mulia bukan sikap Rasulullah! Bahkan dalam kondisi seperti itu beliau tetap tidak mau menyakiti hati istrinya yang telah bersemangat menyambut kedatangannya dan menyuguhkan hidangan berupa minuman. Meskipun Aisyah salah memasukkan garam, tapi Rasulullah tidak bergeming dan tetap meminum hidangan pemberian istrinya.

6. Rasullah Tidak Pernah Menyakiti Badan Istrinya

Diriwayatkan dalam hadits, Aisyah Ra berkata, “Rasulullah tidaklah pernah memukul istrinya walaupun hanya sekali.” (HR. Muslim)

7. Melindungi Istri

Sikap Rasulullah Saat Marah Kepada Istri melindungi istri

Ayah Aisyah Ra, yakni Abu Bakar Ra pernah suatu ketika marah kepada putrinya tersebut karena tahu bahwa kecemburuan Aisyah terlalu berlebihan terhadap Rasulullah. Abu Bakar bahkan sampai memukul putrinya itu.

Rasulullah yang mengetahui hal tersebut lalu menegur Sahabat sekaligus mertuanya itu, beliau berkata,”Aku tak menginginkan hal ini darimu!” Usai menegur Abu Bakar Ra, Rasulullah berkata kepada istrinya,”Tidakkah kau lihat bagaimana aku telah menyelamatkan engkau dari kemarahan ayahmu?” (HR. Muslim)

Demikianlah tadi beberapa sikap Rasulullah saat marah kepada istrinya. Hendaklah suri tauladan yang benar-benar baik tersebut kita jadikan pedoman utama dalam menjalani hidup berumah tangga, agar tercipta keluarga yang harmonis dan bahagia dunia akhirat. Amin

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *