Benarkah Tidur Saat Puasa Bernilai Ibadah?

tidur orang berpuasa adalah ibadah

Mungkin sebagian diantara kita pernah menemui seseorang yang dalam keadaan puasa Ramadhan, tetapi banyak menghabiskan waktunya dengan tidur. Biasanya orang yang melakukan hal tersebut akan berkata, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Dengan perkataan seperti itu seolah menjadi pembenaran atas apa yang mereka lakukan.

Perkataan mengenai tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah memang sering disampaikan oleh sebagian Ustadz. Perkataan tersebut bukanlah tanpa dalil, karena ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa tidurnya orang yang berpuasa sama dengan ibadah. Sehingga akhirnya banyak orang yang menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur, karena merasa sedang mengamalkan hadits tersebut.

Namun sebenarnya, bagaimana dengan derajat hadits tersebut? Apakah haditsnya terbukti shahih, sehingga bisa diamalkan? Karena hadits tersebut seolah bertentangan dengan sunnah-sunnah yang menganjurkan agar seorang muslim untuk banyak mengerjakan ibadah selama berpuasa Ramadhan.

Penjelasan Hadits

Inilah hadits yang dimaksudkan,

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437 dan juga Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin 1/242 dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu. Dalam jalur periwayatannya terdapat seseorang yang bernama  Ma’ruf bin Hasan. Para ulama ahli hadits menilai bahwa dirinya termasuk perawi yang dha’if (lemah).

Selain itu ada juga seseorang yang bernama Sulaiman bin Amr An Nakha’i, dan dirinya dinilai lebih dha’if dari Ma’ruf bin Hasan. Sehingga para ulama hadits menilai derajat hadits ini dha’if (lemah). Imam Al ‘Iraqi dalam Takhrijul Ihya ‘Ulumuddin (1/310) menyebutkan bahwa Sulaiman An Nakha’i adalah seorang pendusta. Sehingga kesimpulannya, hadits tersebut termasuk dalam hadits dha’if (lemah) yang tidak boleh diamalkan.

Makna Yang Benar

Meskipun hadits tersebut dinilai dha’if, namun makna hadits tersebut dapat dibawa kepada makna yang benar sehingga bisa diamalkan. Para ulama menjelaskan sebuah kaidah bahwa amalan mubah seperti makan, tidur, olahraga dan yang semisalnya, dapat bernilai pahala jika diniatkan untuk beribadah.

Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,

أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”

Maksudnya seperti ini, jika ada seseorang yang rajin berolahraga dengan niat ingin memiliki tubuh yang sehat agar dapat melakukan shalat dan ibadah puasa dengan lebih bersemangat. Maka yang seperti ini termasuk dalam amalan mubah yang bisa mendapatkan balasan pahala.

Demikian juga dengan orang yang tidur pada siang hari saat puasa, dengan niat ingin mengistirahatkan badannya agar pada saat mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam dan membaca Quran pada malam hari tidak mudah mengantuk. Maka tidur seperti ini dibenarkan oleh para ulama dan bisa masuk kedalam ibadah yang bernilai pahala. Keduanya sama-sama tidur tetapi diangggap memiliki nilai yang berbeda disisi Allah.

Apa Bedanya?

Yang membedakan antara tidurnya orang berpuasa karena menganggap bahwa tidurnya bagian dari ibadah, dengan tidurnya orang yang ingin mengistirahatkan tubuhnya agar tidak mudah mengantuk ketika mengerjakan ibadah malam adalah NIAT. Niat keduanya jelas sangat berbeda. Sesungguhnya segala sesuatu dinilai berdasarkan niat dan seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)

Jadi bagi orang yang tidur siang dengan niat mengamalkan hadits yang mengatakan bahwa tidur siang seorang yang berpuasa adalah ibadah, tidak akan mendapatkan balasan pahala sebab ia mengamalkan hadits dha’if. Hal yang lebih disayangkan lagi yakni, sebagian orang seringkali menggunakan hadits tersebut untuk membenarkan perbuatan mereka untuk bermalas-malasan dalam menjalankan puasa dan menghabiskan waktunya hanya dengan tidur. Sehingga dengan sebab ini seseorang dapat kehilangan banyak keutamaan di bulan Ramadhan yang seharusnya diisi dengan berbagai ibadah.

Semoga Allah menganugerahkan setiap langkah kita di bulan Ramadhan dengan penuh keberkahan.

Wallahu ta’ala ‘alam.

 

Baca juga :

 

Referensi :

  1. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, Rumaysho
  2. Ustadz Ammi Nur Baits, Konsultasi Syariah
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
hukum ciuman saat berpuasa
Read More

Hukum Ciuman Saat Berpuasa

Hukum Ciuman Saat Berpuasa – Dikutip dari harakahislamiyyah.com, salah satu inti puasa ialah pengendalian diri, baik dari makanan, minuman,…