Memahami Rukun Iman Pertama : Beriman Kepada Allah

beriman kepada allah

Memahami Rukun Iman Pertama : Beriman Kepada Allah – Seorang muslim dianggap sebagai seseorang yang beriman apabila ia telah mampu memahami dan melaksanakan keyakinan terhadap rukun iman. Setiap orang muslim telah mengetahui bahwa ada enam rukun iman yang harus diyakini dan dikerjakan, yakni : beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, kepada hari Akhir (Kiamat), dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.

Memahami rukun iman yang berkaitan dengan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan hal yang paling penting kedudukannya dan paling agung nilainya. Sebab, seluruh kehidupan seorang muslim berpusar pada perkara tersebut dan terbentuk karenanya. Ia merupakan permulaan agama dan akhirnya, batinnya serta zhahirnya, sehingga mencakup seluruh bagian dalam kehidupan seorang muslim.

Baca Juga : Mengenal Tentang Iman Dan Islam Serta Penjelasannya

Seorang muslim dikatakan beriman kepada Allah , apabila dia mampu mengimani empat pondasi utama, yakni :

1. Mengimani Adanya Allah

Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah maka ia tidak beriman. Sebenarnya hal ini mustahil terjadi pada seorang muslim, dan sungguh tidak ada seorangpun yang mengingkari keberadaan Allah dengan segenap hati dan jiwanya, meskipun dia seorang Atheis, bahkan seorang Fir’aun sekalipun mengakui adanya keberadaan Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Ta’ala :

وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ١٤

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml : 14)

2. Mengimani Perbuatan Khusus Allah

Beriman bahwa hanya Allah sebagai Rabb, Tuhan Yang Maha Mencipta, Maha Menguasai dan Maha Mengatur serta perbuatan yang bersifat khusus lainnya. Perbuatan Allah yang bersifat khusus sangatlah banyak, diantaranya : menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, mengatur seluruh alam, menolak bahaya, memberi manfaat, menyembuhkan penyakit dan perbuatan lainnya, yang tidak ada sesuatupun mampu untuk menandingi-Nya dalam perbuatan tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَآۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ ٧ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ رَبُّكُمۡ وَرَبُّ ءَابَآئِكُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٨

“Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menghidupkan dan yang mematikan (Dia-lah Rabbmu) dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu.” (QS. Ad-Dukhan : 7-8)

3. Mengimani Bahwa Tiada tuhan Yang Berhak Disembah Selain Allah

Mengimani bahwa tiada sesuatupun di muka bumi yang berhak untuk diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Keimanan inilah bukti dari makna kalimat syahadat, Laa ilaha illallahu.  Perkara keimanan inilah yang menjadi sebab diutusnya para Rasul, diturunkannya kitab-kitab Allah, dan dengannya pula umat manusia terbagi menjadi dua mukmin dan kafir. Perkara ini pula yang pertama kali Allah perintahkan kepada manusia dalam Al Qur’an :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١

“Wahai manusia! Sembahlah Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 21)

4. Mengimani Nama Dan Sifat-Sifat Allah

Mengimani nama dan sifat Allah harus sesuai dengan makna yang layak bagi Allah, sebagaimana yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya. Maka bagi seorang muslim tidak boleh melakukan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meninggalkan makna), takyif (mempersonalisasi makna/menyamakan dengan makhluk) dan tamtsil (mempraktekkan makna/membayangkan sifat) dalam mengimani nama dan sifat Allah.

Allah telah menetapkan sembilan puluh sembilan nama yang baik (Asma’ul Husna) untuk diri-Nya. Namun jumlah tersebut bukanlah untuk membatasi nama-nama yang lainnya dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Allah berfirman :

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ  ١١٠

“Katakanlah, ‘Serulah Allah, atau serulah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma’ al-Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al Isra : 110)

Sementara Allah juga memiliki sifat yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya. Diantara sifat-sifat Allah adalah mendengar, melihat sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 11)

Wallahu Ta’ala ‘Alam.

Referensi :

  • Syarah Kitab Tauhid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka Imam Asy-Stafi’i : 2017)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri (Darul Haq : 2016)
  • Syarah Arba’in An-Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Darus Sunnah : 2017)
  • Doa & Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka Imam Asy-Syafi’i : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *