Berwudhu Dengan Air Dari Wudhu Orang Lain
BERSUCI, DASAR ISLAM

Berwudhu Dengan Air Dari Wudhu Orang Lain, Bolehkah?

Alomuslim.com Air yang menetes dari anggota wudhu dinamakan dengan air musta’mal, dan dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, apakah air tersebut tetap suci atau tidak. Adapun pendapat yang paling kuat diantaranya, menyatakan bahwa air tersebut masih tetap dianggap suci selama tidak bercampur dengan najis.

Pendapat ini dipilih oleh Ali bin Abu Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Umamah, sebagian adzhab Malik, salah satu riwayat dari Syafi’I dan Ahmad. Pendapat ini diperkuat dengan dalil berikut :

1. Hukum asal air adalah suci dan tidak najis karena sesuatupun, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam :

“Air itu suci, tidak ada Sesutupun yang membuatnya najis.”

2. Pernah diceritakan dalam beberaa riwayat, bahwa para sahabat menggunakan air bekas wudhu Nabi shallallahu alaihi was sallam, diantaranya hadits dari Abu Juhaifah, ia berkata :

“Rasulullah shallallahu alaihi was sallam  pernah menghampiri para sahabat pada siang hari yang panas, kemudian dibawakan air untuk beliau dan beliaupun berwudhu, lalu para sahabat mengambil sisa air wudhu tersebut dan megusapkannya ke badan mereka.”

3. Dalam riwayat dari Ibnu Umar disebutkan, bahwa ia berkata, ‘Dulu, pada zaman Nabi shallallahu alaihi was sallam kaum laki-laki dan wanita berwudhu bersama-sama.’

Al Hafizh Ibnu Hajar, seorang ulama besar dalam bidang hadist, mengatakan dalam kitab penjelasan Shahih Bukhari, Fath Al Baari (1/353), “Kemungkinan mereka (para sahabat) mengambil sisa air yang mengalir dari anggota wudhu Nabi shallallahu alaihi was sallam, hal ini menunjukkan sucinya air walaupun telah terpakai (musta’mal).”

Sehingga berdasarkan pendapat ini, bagi kaum muslimin apabila mengalami kekeringan atau sulit mendapati air ataupun dalam kondisi banyak air sekalipun, maka ia bisa menggunakan air wudhu secara bersama-sama, walaupun itu bekas air yang digunakan orang lain.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *