Bolehkah Berhaji Diwakilkan Orang Lain
DASAR ISLAM, HAJI

Bolehkah Berhaji Diwakilkan Orang Lain?

Alomuslim.com – Ketika seseorang yang telah memiliki kemampuan untuk haji, kemudian karena suatu sebab dia tidak dapat melaksanakannya, baik karena faktor usia yang sudah lanjut, kesehatan yang sudah menurun atau sakit yang tidak dapat diharapkan sembuh. Maka orang tersebut dapat mewakilkan hajinya kepada orang lain dengan hartanya.

Hal ini sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya seorang perempuan dari Khats’am berkata, ‘Wahai Rasulullah, bapakku memiliki kewajiban haji pada saat dia telah lanjut usia dan tidak mampu lagi berada di atas kendaraan (hewan tunggangan), apakah aku dapat menghajikannya?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.” (HR. Bukhari 1885 Muslim 1334)

Dalam riwayat lain disebutkan;

“Bagaimana jika ayahmu memiliki tanggungan hutang, apakah kamu akan melunasinya?” Dia menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi’.” (HR. Bukhari 6699, An Nasa’i 5/116)

Apabila orang tersebut telah diwakilkan hajinya, maka gugurlah kewajiban atas dirinya. Meskipun, dikemudian hari Allah menakdirkan kesembuhan atau kemampuan untuk berhaji baginya, maka orang tersebut telah terbebas dari tanggungannya dan tiak lagi diwajibkan melaksanakan haji sendiri.

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberitahukan dalam hadits di atas, bahwa ibadah haji merupakan ‘hutang’ kepada Allah, dan dapat dilunasi oleh dirinya sendiri maupun diwakilkan kepada orang lain. Dengan demikian, kewajiban haji tersebut tidak kembali ada lagi, kecuali dengan adanya hadits lain yang menjelaskan bahwa orang tersebut tetap memiliki kewajiban haji.

Karena kalau saja orang tersebut tetap diwajibkan untuk berhaji lagi, maka pasti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Tetapi nyatanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menyatakan demikian. Maka inilah pendapat yang kuat diantara beberapa pendapat ulama dalam permasalahan ini.

Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustakan Azzam : 2015)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *