Bolehnya Wanita Menawarkan Diri Kepada Lelaki Shalih Untuk Dinikahi

Bolehnya Wanita Menawarkan Diri Kepada Lelaki Shalih Untuk Dinikahi

Alomuslim.com – Kalau melihat zaman kita hidup sekarang ini, rasanya sebuah aib yang harus dihindari, apabila seorang wanita sampai menawarkan diri kepada lelaki untuk dinikahi. Karena zaman kita hidup sekarang ini, sungguh telah jauh dari tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan lebih banyak mengambil tuntuna dari orang-orang barat, yang nyatanya adalah musuh Islam.

Menurut tuntunan syariat Islam, seorang wanita diperbolehkan untuk menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dinikahi. Yang seperti itu pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dimana pernah ada seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

“Ada seorang wanita yang datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dia menawarkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, ‘Wahai Rasululla, apakah engkau membutuhkanku (maksudnya mau menikahiku)?’ Putri Anas berkomentar, ‘Wanita itu benar-benar tidak memiliki rasa malu’. Anaspun berkata, ‘Dia itu lebih baik daripada kamu, dia menginginkan untuk menikah dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka dia menawarkan dirinya kepada beliau’.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah tidak melarang apa yang dilakukan oleh sang wanita. Hanya saja ketika itu beliau sedang tidak ada hajat kepadanya, dan kemudian menawarkan wanita itu kepada para sahabat yang ada ketika itu. Sehingga dengan berpegang pada hadits ini, dapat ditarika sebuah kesimpulan bahwa seorang wanita boleh menawarkan dirinya kepada lelaki yang dia anggap shalih, yang dapat membawa kebaikan untuk diri dan agamanya.

Tetapi yang perlu diperhatikan dalam hal ini, diperbolehkan bagi wanita menawarkan dirinya asalkan tidak dikhawatirkan akan terjadi fitnah. Jika khawatir akan timbul fitnah, maka hal semacam ini tidak diperbolehkan, karena bisa menyebabkan kerusakan.

Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 3, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like