Bagaimana Cara Memahami Hadis Part II

cara memahami hadis

Bagaimana Cara Memahami Hadis Part II – Hadis sebagaimana teks-teks lainnya, memiliki makna yang tidak semuanya secara jelas dapat dipahami dengan mudah. Semuanya pada dasarnya adalah satu-kesatuan pemahaman yang bersumber dari Rasulullah SAW, yang kemudian menjadi berbeda melalui jalur periwayatan yang berbeda.

Hadis Itu Saling Menafsirkan Satu Sama Lain

Sama halnya dengan Alquran, dalam hadis juga terdapat lafad ‘am dan khas, terdapat lafad muthlaq dan muqayyad, dan lafad mujmal dan mubayyin. Dikarenakan masing-masing teks hadis ada yang jelas pemahamannya (wadhih) dan ada pula yang tidak jelas (ghayru wadhih), maka perlu adanya penafsir yang mampu menafsirkan ketidak jelasan tersebut. Sebelum melangkah ke teks lain, hadis pada dirinya sendiri adalah penjelas bagi yang lainnya sebagaimana ungkapan Ahmad bin Hanbal dalam al-Jami’ li Akhlaqir Raawi wa Aadaabis Saami’:

الحديث إذا لم تجمع طرقه لم تفهمه،والحديث يفسر بعضه بعضا

Sebuah hadis jika tidak dikumpulkan seluruh jalur periwayatannya, maka tidak akan dapat dipahami, oleh sebab itu hadis, satu sama lain saling menafsirkan.

Adapun langkah-langkah untuk memahami sebuah hadis sehingga satu sama lain bisa menafsirkan adalah:

  1. Mengumpulkan seluruh jalur periwayatan dalam satu tema pembahasan;
  2. Memilah dan memilih antara hadis yang shahih dan yang dhaif;
  3. Mengambil hadis yang shahih dan meninggalkan riwayat-riwayat yang tidak shahih, serta mengambil hadis-hadis yang bisa diamalkan dan meninggalkan hadis-hadis yang tidak bisa diamalkan seperti hadis yang telah dimansukh atau dihapus;
  4. Mengambil hadis-hadis yang jelas dilalahnya, setelah memilih dan memilah hadis-hadis yang kurang jelas dilalahnya;
  5. Dan yang terakhir adalah menafsirkan hadis yang tidak jelas dilalahnya dengan hadis yang jelas dilalahnya, hal berdasarkan kaidah, “lafad yang jelas menafsirkan lafad yang tidak jelas”.

Baca Juga : Cara Memahami Hadis Part I

Contoh terkait tema ini adalah hadis tentang melihat Rasulullah SAW dalam mimpi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan seluruh jalur periwayatan yang berkaitan dengan hadis ini, sebagaimana berikut:

  1. من رآني في المنام فقد رآى الحق (barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi maka sungguh ia melihat dalam kenyataan)
  2. من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتمثل بي (barangsiapa yang melihatku di dalam tidur maka sungguh ia telah melihatku, sebab setan tidak mampu menyerupaiku)
  3. من رآني في المنام فسيراني في اليقظة (barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka ia akan melihatku di saat ia terjaga)
  4. من رآني في المنام لكأنما رآني (barangsiapa yang melihatku, maka seakan-akan ia telah melihatku)

Jika dipilah dan dipilih beberapa jalur periwayatan di atas, maka semua hadisnya bisa dikatakan sahih dan digunakan (ma’mul) sebab dari keempat jalur di atas semuanya diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari kecuali hadis nomor empat yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim. Dengan demikian keseluruhan hadis di atas bisa dijadikan bahan analisis untuk selanjutnya.

Menurut al-Imam Ibnul ‘Arabi al-Maliki dalam kitab ‘Aridhatul Ahwadhi Syarh Shahih al-Tirmidzi menyebutkan bahwa seluruh hadis melihat Rasul SAW dalam mimpi terdiri dari empat lafad inti yang sahih yang menjadi pusat perdebatan, di antaranya adalah: 1. Maka sungguh ia telah melihatku dalam keadaan terjaga; 2. Maka sungguh ia telah melihat kenyataan; 3. Maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga; 4. Seakan-akan dia melihatku dalam keadaan terjaga.

Dari keempat lafad di atas ada tiga lafad yang tidak jelas dilalahnya atau dalam arti lain ia memiliki masalah dan tidak bisa dipahami secara tekstual yaitu mulai dari hadis satu hingga hadis yang ketiga. Bagaimana tidak? Ketika orang yang bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW apakah berarti ia akan bertemu dengan beliau di dunia nyata? Lantas bagaimana dengan orang yang hidup setelah Rasulullah SAW wafat? Apakah mungkin beliau akan menemui mereka?

Oleh sebab ketiga hadis pertama tidak jelas, maka perlu dijelaskan oleh hadis yang jelas maknanya sebagaimana hadis yang terakhir yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim bahwa barangsiapa yang bermimpi bertemu Rasulullah SAW, maka seakan-akan ia telah menemuiku dalam keadaan terjaga. Kata seakan-akan ini menunjukkan adanya situasi di mana seseorang seperti benar-benar melihat Rasul dalam mimpi dalam wujud yang nyata. Dengan demikian pemahaman tiga hadis yang pertama bisa ditafsirkan oleh hadis yang terakhir.

Wallahu a’lam.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *