Bagaimana Cara Memahami Hadis Part I

cara memahami hadis

Bagaimana Cara Memahami Hadis – Ada kecenderungan di tengah masyarakat kita ketika mendengar sebuah hadis dari Rasulullah Saw, muncul semacam semangat berlebih untuk mengamalkan dan menyampaikannya. Namun apakah benar sikap tersebut?

Yang perlu diketahui adalah setiap hadis yang dikatakan berasal dari Nabi Saw tidak semuanya benar, ada yang disebut dengan hadis shahih, hadis hasan dan hadis dhaif. Setiap jenis tersebut memiliki konsekuensi hukumnya masing-masing. Meskipun sebuah hadis dikatakan shahih tidak serta-merta bisa diamalkan sebelum kita memahami maksud dari hadis tersebut secara tepat.

Pemahaman yang salah kadangkalan berakibat kurang baik di kemudian hari. Itulah mengapa untuk mengamalkan informasi tentang sebuah hadis, seseorang memerlukan guru yang pakar dalam bidang tersebut, atau dengan merujuk kepada penjelasan-penjelasan ulama-ulama terdahulu yang masyhur keilmuaannya.

Baca Juga :

Salah satu pokok bahasan dalam memahami hadis adalah tentang makna majas dan makna hakiki. Makna majas adalah makna yang bukan sebenarnya atau makna kiasan, sedangkan makna hakiki adalah makna sebenarnya. Berikut contoh hadis yang mengandung makna majas tentang kisah isteri Nabi Saw yang salah paham dengan maksud “yang paling panjang tangannya”.

أَنَّ بَعْضَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قُلْنَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَيُّنَا أَسْرَعُ بِكَ لُحُوقًا قَالَ أَطْوَلُكُنَّ يَدًا فَأَخَذُوا قَصَبَةً يَذْرَعُونَهَا فَكَانَتْ سَوْدَةُ أَطْوَلَهُنَّ يَدًا فَعَلِمْنَا بَعْدُ أَنَّمَا كَانَتْ طُولَ يَدِهَا الصَّدَقَةُ وَكَانَتْ أَسْرَعَنَا لُحُوقًا بِهِ وَكَانَتْ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra: “Sesungguhnya sebagian isteri Nabi Saw bertanya kepada Nabi Saw, ‘Siapakah yang paling cepat bertemu (di akhirat nanti- maksudnya adalah yang paling cepat wafat setelah Nabi) denganmu wahai Nabi? ‘Yang paling panjang tangannya,’ jawab Nabi.

Seketika itu isteri-isteri Nabi pun mengambil ranting kayu dan mengukur tangan-tangannya, dan Saudah-lah yang paling panjang tangannya ketika itu. Belakangan kami tahu bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan adalah yang paling banyak bersedekah, dialah yang paling cepat bertemu Nabi Saw.” (HR. Imam al-Bukhari)

Dijelaskan oleh Imam Nawawi (676 H) dalam Syarah Shahih Muslim, bahwa waktu itu isteri-isteri Nabi salah sangka dengan hadis tersebut sehingga mereka mengukur tangan-tangan mereka, siapakah yang paling panjang tangannya. Diketahui yang paling panjang tangannya adalah Saudah.

Namun, ketika mereka sadar bahwa yang dimaksud adalah yang paling gemar bersedekah, seketika itu yang dimaksud adalah Zainab. Dan benarlah yang paling dahulu meninggal di antara isteri-isteri Nabi yang saat itu bertanya kepada beliau adalah Zainab.

Dalam keterangan lain disebutkan bahwa isteri-isteri Nabi Saw bertanya tentang hal itu ketika Nabi masih hidup, dan ketika beliau wafat isteri-isteri Nabi tersebut baru sadar bahwa yang dimaksud oleh Nabi adalah Zainab yang paling sering bersedekah semasa hidup. Hal ini diketahui setelah Zainab wafat terlebih dahulu dibandingkan dengan isteri-isteri beliau yang lain.

Contoh di atas jelas menunjukkan makna “yang panjang tangannya” bukan dimaksudkan panjang tangan dalam arti hakiki, anggota badan, melainkan arti majas yang berarti yang paling sering bersedekah.

Untuk mendapatkan pemahaman seperti ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Perlu merujuk beberapa keterangan ulama, perlu memahami tata bahasa Arab yang baik dan benar. Itulah mengapa seseorang tidak boleh serampangan dalam memahami dan menyampaikan sebuah hadis. Diperlukan ulama yang alim yang bisa membimbing.

Wallahu a’lam.

Sumber: al-Thuruq al-Shahihah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *