Cara Mengajarkan Anak Untuk Shalat

Alomuslim.com – Anak kecil yang belum baligh, tidak memiliki kewajiban untuk mengerjakan shalat, hingga mereka mencapai usia baligh. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

“Pena diangkat dari tiga orang (tidak dianggap sebagai dosa); dari orang yang tidur hingga terjaga, dari anak kecil hingga dewasa (dalam riwayat lain ; hingga bermimpi), dan dari orang gila hingga sadar.” (shahih. HR. Abu Dawud 4398, An-Nasa’i 6/156, Ibnu Majah 2041)

Inilah yang menjadi dalil bahwa anak kecil yang belum baligh tidak akan mendapatkan dosa ketika meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tetapi bagi para orangtua, hendaknya tidak membiarkan anaknya begitu saja tanpa memberikan pengajaran tentang kewajiban yang harus diemban anaknya ketika telah masuk usia baligh, terutama dalam menegakkan perintah shalat.

Bagi para orangtua, hendaknya mulai memberikan pengajaran mengenai shalat ketika anak berusia tujuh tahun, dan ini merupakan sebuah keharusan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

“Perintahkanlah anak kecil untuk shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah jika meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun.” (shahih. HR. Abu Dawud 494, At-Tirmidzi 407)

Mengenai perintah untuk orangtua memukul anaknya ketika berusia sepuluh tahun karena meninggalkan shalat, permasalahan ini seringkali dianggap sebagai sebuah ajaran kekerasan dalam Islam. Terutama bagi orang-orang yang memusuhi Islam dan mengatasnamakan Hak Asasi Manusia. Mereka seringkali menjadikan dalil ini sebagai amunisi untuk memojokkan syariat Islam dan menganggapnya bertentangan dengan Hak Asasi Manusia, apalagi dalam hal ini subjek pelakunya orang dewasa dan objeknya adalah anak kecil.

Mari kita luruskan perkara ini. Para ulama masih mempermasalahkan perintah untuk orangtua memukul anaknya, meskipun redaksi hadits menyatakan demikian. Tentu para ulama tidak bermaksud untuk menentang apa yang sudah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karena tidak ada sesuatupun yang diperintahkan oleh Rasulullah akan membawa keburukan atau kerugian bagi umatnya.

Hal ini dapat dijawab dengan mendudukan perkaranya kepada dua objek. Pertama,  orangtua. Mereka memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya dalam menegakkan kewajiban shalat, karena orangtua bisa mendapatkan dosa ketika meninggalkan kewajiban itu. Kedua, anak. Meskipun dirinya belum terkena dosa ketika meninggalkan kewajiban shalat, namun hal tersebut tidak menghilangkan kewajiban orangtua untuk mendidiknya shalat, sehingga orangtua diperbolehkan untuk memukulnya apabila meninggalkan shalat ketika sudah berumur sepuluh tahun.

Sementara yang perlu diperhatikan dalam memukul anak, hendaknya para orangtua tidak melakukannya dengan penuh amarah dan diselimuti kebencian, sehingga ketika memberikan hukuman hal itu akan menyakiti, bahkan dapat melukai anak dan dapat memunculkan sebuah trauma psikis pada anak. Bukan seperti itu tentu maksud dari sabda Rasulullah. Hendaknya orangtua memberikan pukulan dengan kasih sayang, dengan tujuan untuk mendidik serta tidak sampai menyakiti anaknya. Yang terpenting, anak harus paham kenapa ia mendapatkan hukuman tersebut.

Namun, apabila orangtua memiliki sebuah metode yang lebih baik, dengan tidak memukul anaknya ketika meninggalkan shalat tetapi kemudian membuat anaknya lebih bersemangat untuk mengerjakan shalat, maka yang seperti itu boleh untuk dilakukan. Sehingga perintah untuk memukul anak tidak lagi dijadikan sebagai bahan untuk melancarkan serangan terhadap syariat Islam. Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Comment