Cindera mata
DASAR ISLAM, TRANSAKSI KEUANGAN

Cindera Mata (Souvenir) Dalam Tinjauan Syariat Islam

Alomuslim.com – Pernahkan anda menerima suatu pemberian berupa cindera mata (souvenir) dari para pedagang atau perusahaan setelah melakukan transaksi jual beli? Sebagian besar diantara kita pasti pernah menerimanya, tetapi tahukah anda hukum menerima pemberian cindera mata (souvenir) tersebut?

Banyak para pedagang atau perusahaan membuat hadiah berupa cindera mata (souvenir) dalam bentuk kalender, gantungan kunci, cangkir, buku catatan harian atau pena dan yang lainnya. Biasanya cindera mata (souvenir) dibagikan secara cuma-cuma kepada para pembeli atau pelanggan sebagai kenang-kenangan sekaligus sebagai strategi marketing dalam mempromosikan usaha atau produk mereka.

Efek yang dihasilkan dari strategi marketing seperti ini biasanya, pada saat penerima hadiah membutuhkan barang atau produk tertentu, mereka akan langsung ingat kepada pedagang atau perusahaan tersebut dan langsung menghubunginya. Karena cindera mata (souvenir) yang diterima, secara tidak langung mengingatkan penerima kepada pedagang atau perusahaan tersebut, bahkan mereka dapat dengan mudah dihubungi karena alamat lengkapnya tertera ada cindera mata (souvenir) yang dibagikan.

Dalam tinjauan syariat Islam, hadiah jenis ini tergolong hibah, pedagang atau perusahaan boleh memberikannya dan konsumen juga boleh menerimanya. Kecuali hadiah yang digunakan untuk mendukung kepentingan yang haram, seperti kalender yang bergambar wanita tidak menutup aurat, CD atau alat pemutar musik, asbak atau tempat menyimpan rokok, baju yang mempromosikan merk minuman keras dan yang sejenisnya.

Tidak hanya itu, apabila cindera mata (souvenir) tersebut berasal dari perusahaan yang bergerak dibidang yang haram, seperti kalender dari bank riba, buku catatan dari perusahaan asuransi konvensional atau yang lainnya. Karena hal tersebut bagian dari membantu perusahaan tersebut dalam mempromosikan produk atau jasa mereka, padahal produk atau jasa mereka adalah haram.

Kaidahnya dalam pelarangannya adalah tidak boleh bagi seorang muslim tolong menolong dalam hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Ma’idah : 2)

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun juga.” (HR. Muslim no. 1017)

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Harta Haram Muamalat Kontemporer, Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)
  • Menolong Dalam Maksiat Dihitung Maksiat, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *