Diantara Bentuk Kesempurnaan Iman – Alomuslim

Diantara Bentuk Kesempurnaan Iman

Diantara Bentuk Kesempurnaan Iman – Iman menurut bahasa memiliki arti pengakuan hati terhadap apa yang datang kepadanya yang megharuskan penerimaan dan kepasrahan, bukan hanya sekedar pembenaran semata. Maka orang yang mengakui namun tidak menerima dan pasrah belum dianggap seorang mukmin.

Tempatnya iman adalah di hati, lisan dan anggota badan. Artinya, ucapan lisan disebut iman dan perbuatan anggota badan juga dinamakan iman. Dalilnya adalah firman Allah , :

 وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ١٤٣

“Dan Allah tidak menyia-nyiakan imanmu.” (QS. Al Baqarah : 143)

Para ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “imanmu” ialah shalatmu. Nabi ﷺ juga telah bersabda :

“Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Cabang yang paling tinggi ucapan ‘Laa ilaaha illallah.’ Yang paling rendah adalah menyingkirkan bahaya dari jalan, dan rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari No. 35)

Cabang iman yang paling tinggi adalah ucapan “Laa ilaah illallah”, dan ucapan merupakan perbuatan lisan. Sementara cabang iman paling rendah adalah meyingkirkan bahaya dari jalan, dan ini merupakan perbuatan anggota badan. Rasa malu adalah perbuatan hati. Sehingga hadits diatas telah menjelaskan perkara iman merupakan tindakan yang dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan.

Sementara yang juga menjadi bagian dari iman dan merupakan bentuk dari kesempurnaan iman, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda :

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari No. 13, Muslim No. 45)

Hadits tersebut menunjukkan wajibnya bagi seorang mukmin mencintai untuk saudaranya apa-apa yang dia cintai sebagaimana dia mencintai sesuatu tersebut untuk dirinya sendiri. Sehingga kesempurnaan iman seorang mukmin sangat bergantung dengan kecintaannya terhadap saudaranya.

Wallahu ‘alam

Referensi : Syarah Arba’in An Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin (Darus Sunnah : 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *