Etika-etika Berperang Dalam Islam – Alomuslim

Etika-etika Berperang Dalam Islam

Etika-etika Berperang Dalam Islam – Agama Islam dalam sejarahnya memang sangat kental dengan istilah jihad. Meskipun makna jihad bisa sangat beragam, namun yang akrab ditelinga masyarakat adalah jihad perang. Dalam al-Islam bayna al-Harb wa al-Salam dijelaskan bahwa alasan utama Nabi Saw berperang bukanlah karena perbedaan agama maupun ras.

Misalnya perang Nabi Saw melawan Bani Quraidhah (Yahudi) alasannya adalah karena mereka melanggar perjanjian secara sepihak, kemudian perang Nabi melawan orang-orang Quraisy adalah karena umat Islam terzalimi. Jika benar bahwa jihad Nabi karena perbedaan, maka seharusnya Nabi Saw membunuh mertuanya sendiri yang seorang Yahudi, yakni Huyay bin Akhthab, demikian pula Nabi tidak akan berniaga dengan Abu Syahm yang juga seorang Yahudi.

Berperang dalam Islam juga memiliki kriteria yang ketat, harus dibedakan antara kondisi damai dan perang. Kalaupun terjadi peperangan, tidak serta merta Nabi Saw secara membabi buta menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun. Ada etika yang digariskan oleh Nabi Saw dalam peperangan. Dikutip dari al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Zuhaily merangkum beberapa kriteria orang yang boleh diperangi dan tidak, sebagai berikut

1. Yang boleh diperangi adalah mereka yang terlibat memerangi umat Islam baik itu dengan terjun langsung berperang, atau mengatur strategi atau hanya sebagai otak serangan.

2.Tidak boleh memerangi pihak-pihak yang tidak terlibat dalam peperangan seperti perempuan, anak-anak, orang gila, orang tua yang telah pikun, orang sakit yang tidak ikut berperang, orang lumpuh, buta, orang yang tangan dan kakinya terpotong, atau yang tangan kanannya terpotong, orang yang lemah untuk berperang, orang yang kurang waras pikirannya, pendeta atau rahib di tempat ibadah, orang-orang yang berlindung di tempat ibadah, dan para petani di sawah. Kecuali jika mereka semua terlibat peperangan dengan menyumbangkan perkataan, perbuatan, pikiran, atau menggelontorkan dana. Sebagaimana riwayat dari Abu Musa berikut.

Baca Juga : Qatzman Pahlawan Perang Yang Masuk Neraka

Suatu ketika Rabi’ah bin Rafi’ al-Sulamy menjumpai Duraid bin al-Shimmah pada perang Hunain. Rabi’ah pun kemudian membunuhnya padahal ia adalah orang tua yang umurnya lebih dari 100 tahun, ia tidak lagi memiliki daya kecuali ide-idenya yang masih dipergunakan. Maka, kabar dibunuhnya kakek tua tersebut sampai kepada Nabi Saw, namun Nabi tidak menyalahkan Rabi’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dengan wanita, mereka boleh dibunuh dengan alasan seperti jika perempuan tersebut adalah seorang Ratu, yang jika dibunuh maka musuh akan kocar-kacir kehilangan pemimpin, demikian pula jika pemimpin mereka adalah anak-anak, jika membuat musuh kocar kacir maka tidak masalah untuk dibunuh.

Adapun beberapa alasan mengapa orang-orang tersebut tidak boleh diperangi adalah beberapa sabda Nabi di antaranya.

Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian memerangi perempuan dan anak-anak.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, dan lain-lain)

Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian membunuh para pemuka agama.” (HR. Ahmad dari Ibn ‘Abbas)

Atau dalam riwayat yang lebih panjang dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

انْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلاَ تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلاَ طِفْلاً وَلاَ صَغِيرًا وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ تَغُلُّوا وَضُمُّوا غَنَائِمَكُمْ وَأَصْلِحُوا وَأَحْسِنُوا (إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ)

Nabi Saw bersabda: “Beranjaklah kalian untuk berperang dengan menyebut Nama Allah, demi Allah dan di atas agama Rasulullah. Dan janganlah kalian membunuh orang tua yang fana (lanjut usia), jangan pula bayi, anak-anak, perempuan, dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Lalu kumpulkanlah binatang ternak dan ciptakanlah kedamaian serta berbuat baiklah.” (HR. Abu Dawud)

Itulah beberapa kriteria siapa sajakah yang boleh dan tidak boleh diperangi dalam kondisi peperangan. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak berlaku baik, bahkan dalam keadaan perang. Semoga kita dan bangsa kita selalu dinaungi perdamaian sampai kapanpun. Amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: al-Islam bayna al-Harb wa al-Salam dan al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *