Hal yang harus diperhatikan ketika thawaf
DASAR ISLAM, HAJI

Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Thawaf

Alomuslim.comHal yang harus diperhatikan ketika thawaf, Terkadang banyak diantara jamaah haji atau umrah melakukan beberapa amalan yang tidak ada tuntunan atau petunjuk dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Hal tersebut bisa terjadi karena sebagian banyak diantara mereka yang belum mengetahui mengenai hukum dan ketentuannya.

Demikian halnya dalam ketentuan rukun thawaf. Ada beberapa diantara ketentuan rukun thawaf, yang masih belum diketahui oleh para jamaah haji atau umrah. Sehingga terkadang mereka melakukan hal yang sia-sia atau malah menyelisihi sunnah.

[irp posts=”2925″ name=”9 Sunnah Ketika Thawaf Yang Harus Kamu Ketahui”]

Mungkin ada juga yang sebagiannya masuk dalam masalah khilafiyah, sehingga para jamaah hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh pembimbing ibadah. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan oleh jamaah haji atau umrah pada saat  melakukan rukun thawaf.

Berikut Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Thawaf :

1. Wanita Yang Mengalami Haid Sebelum Thawaf

Apabila wanita mengalami haid sebelum melaksanakan thawaf ifadhah dapat menunggu hingga suci -tanpa ada kesulitan- , maka dia harus menunggunya sampai suci, sesuai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiallahu anha,

“Lakukanlah semua yang dilakukan orang yang melakukan ibadah haji, kecuali thawaf di Ka’bah.”

Akan tetapi jika wanita haid tersebut tidak dapat menunggu hingga suci untuk melakukan thawaf, karena terikat dengan jadwal penerbangan kembali ke negaranya, maka dengan demikian ia dapat menggunakan obat atau suntikan penunda haid sampai setelah masa pelaksanaan haji. hal yang seperti ini diperbolehkan berdasarkan keputusan Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi.

2. Ketika Ragu Dalam Hitungan Putaran Thawaf

Ketika seseorang merasa ragu dalam melakukan putaran thawaf, hendaknya ia mengambil jumlah berdasarkan pada keyakinannya yang lebih kuat. Apablia masih terdapat keraguan lagi, seseorang tersebut dapat mengambil dari jumlah yang lebih sedikit dari yang diyakini dan ini merupakan pendapat dari para ulama, dari kalangan madzhab Hambali dan Syafi’i.

[irp posts=”2759″ name=”Macam-Macam Thawaf Dalam Ibadah Haji”]

3. Tidak Memaksakan Diri Untuk Berlari-lari Ketika Thawaf

Berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama tidak harus dipaksakan bagi seseorang yang sedang melaksanakan putaran thawaf, apabila kondisi orang-orang yang berdesakkan atau kondisi fisik yang tidak memungkinkan karena khawatir terjadi mudharat terhadap dirinya maupun orang lain. Dan ia juga tidak harus menggantinya pada empat putaran terakhir.

4. Hukum Berlari-lari Kecil Bagi Wanita

Bagi wanita, berlari-lari kecil tidak disyariatkan untuk dikerjakan berdasarkan dari pendapat para ulama, bahkan sebagiannya mengatakan telah bersepakat para ulama dalam hal ini. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha :

“Wahai kaum wanita, kalian tidak disyariatkan berlari-lari kecil di Ka’bah. Hendaknya kalian menjadikan kami sebagai teladan.” (hasan lighairihi. HR. Al Baihaqi 5/84, Ibnu Abi Syaibah no. 809)

5. Apabila Tidak Menyentuh atau Mencium Hajar Aswad

Hal yang harus diperhatikan ketika thawaf hajar aswad

Seseorang yang sedang melakukan thawaf dianjurkan untuk menyentuh hajar Aswad dengan tangannya dan menciumnya jika memungkinkan. Tetapi apabila ia telah dapat menyentuhnya, kemudian kesulitan untuk menciumnya, cukup baginya mencium tangan yang digunakan untuk menyentuh hajar Aswad.

Apabila menyentuhnya juga masih kesulitan, maka ia dapat menggunakan alat bantu untuk menyentuhnya, semisal tongkata atau yang lainnya, kemudian mencium benda tersebut yang digunakan untuk menyentuh hajar Aswad. Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

[irp posts=”2833″ name=”Syarat-Syarat Melakukan Thawaf”]

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan thawaf pada saat melakukan haji wada’ diatas hewan tunggangannya dan menyentuh hajar Aswad dengan sebuah tongkat yang bengkok ujungnya.” (HR. Bukhari no. 1607)

Namun apabila masih tidak mampu melakukan yang demikian, maka cukuplah memberi isyarat dengan tangannya sambil bertakbir. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata :

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan thawaf di Ka’bah di atas hewan tunggangannya, setiap kali beliau sampai di sudut hajar Aswad beliau memberikan isyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada di tangannya dan bertakbir.” (HR. Bukhari no. 1613)

6. Hendaknya Kaum Wanita Tidak Berdesakkan Dengan Kaum Lelaki

Seorang wanita tidak seharusnya berdesak-desakkan dengan kaum lelaki karena ingin mencium rukun Yamani atau hajar Aswad. Dari Atha’ dia berkata, “Aisyah melakukan thawaf secara hajrah (menepi dan tidak berbaur dengan lelaki), maka seorang perempuan berkata, ‘Ayolah, mari kita menyentuh hajar Aswad, wahai ummul mukminin.’ Dia menjawa, ‘Pergilah kamu dariku.’ Dan dia sendiri enggan melakukannya (karena harus berdesak-desakkan dengan kaum lelaki).

Atha’ berkata, “Mereka (kaum wanita) keluar secara tersembunyi pada malam hari dan thawaf bersama kaum lelaki, akan tetapi apabila mereka masuk ke daerah Ka’bah, mereka berdiri sehingga dapat memasukinya dan kaum lelakipun keluar..” (HR. Bukhari no. 1618, Abdur Razak 5/67)

7. Berbicara Dengan Orang Lain Pada Saat Melakukan Thawaf

Pada saat melakukan thawaf, seseorang diperbolehkan berbicara, dan itu tidak membatalkan thawaf serta tidak dimakruhkan. Namun, yang lebih baik agar tidak melakukannya, kacuali pembicaraan dalam kebaikan, seperti amar makruf nahi munkar, mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahui, menjawab dalam hal agama dan yang lainnya.

8. Thawaf Dengan Berkendara

Hal yang harus diperhatikan ketika thawaf berkendara

Diperbolehkan melakukan thawaf dengan berkendara, sekalipun orang tersebut mampu untuk berjalan, karena merasa membutuhkannya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan thawaf di atas hewan tunggangannya dan menyentuh hajar Aswad dengan tongkat, agar kaum muslimin menyaksikannya. Dan ini pedapat yang diambil oleh ulama madzhab Syafi’i.

Sementara beberapa ulama dari kalangan madzhab Hanafi dan Hambali, mewajibkan dengan berjalan kaki secara mutlak, akan tetapi hanya pada thawaf yang wajib.

Demikian beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang menunaikan ibahad haji dan umrah ketika melakukan thawaf. Semoga Allah membimbing umat muslim untuk senantiasa berada di atas ilmu dan sunnah Rasul-Nya.

Allahumma aamiin. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *