Haruskah Berbuka Puasa Dengan Yang Manis? – Alomuslim

Haruskah Berbuka Puasa Dengan Yang Manis?

berbuka puasa

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer ditengah-tengah masyarakat muslim di negeri ini mengenai anjuran berbuka puasa, yakni “Berbukalah dengan yang manis”. Karena sangat populernya, banyak saudara kita yang meyakini kalau ungkapan tersebut merupakan perkataan yang diucapkan oleh lisan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau hadits.

Hal tersebut tidaklah benar. Para ulama tidak pernah mendapati satupun hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, baik dalam kitab hadits maupun kitab ilmu fiqih, yang berbunyi seperti itu dan semisalnya. Lalu darimana ungkapan itu berasal? Entahlah, ungkapan tersebut menjadi mahsyur karena promosi sebuah produk minuman yang ditayangkan secara masif setiap bulan Ramadhan.

Adapun kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setiap kali berbuka puasa adalah dengan menyantap kurma, baik dari jenis ruthab maupun tamr, atau air putih. Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata :

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air.” [HR Abu Dawud (no. 2356), Ad-Daruquthni (no. 240) dan Al-Hakim (I/432 no. 1576). Dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil IV/45 no. 922]

Namun dari hadit ini, kemudian ada ulama yang berusaha meng-qiyaskan kurma dengan makanan yang manis. Seperti yang diungkapkan oleh Taqiyuddin Al Hushni, penulis kitab Kifayatul Akhyar menukil pendapat Ar Rauyani yang menyatakan demikian:

Dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: ‘kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma’” (Kifayatul Akhyar, 200).

Tetapi pendapat Ar Rauyani (yang merupakan ulama Syafi’iyah) tersebut dibantah oleh banyak ulama fiqih yang lain, termasuk para ulama dari kalangan Syafi’iyah sendiri. Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan:

“[jika tidak ada] tiga tamr atau ruthab [maka dengan satu tamr] atau ruthab. Maka dengan ini tercapai pokok sunnah. [Jika tidak ada] ruthab dan tamr [maka dengan air]. Inilah yang disunnahkan dalam berbuka, bukan yang lainnya. Tidak sebagaimana pendapat Ar Rauyani yaitu ia mendahulukan makanan manis. Pendapat ini (didahulukannya kurma dan air) berdasarkan hadits shahih yang telah disebutkan” (Al Minhajul Qawiim, 1/252)

Zainuddin Al Malibari mengatakan:

“Syaikhai(An Nawawi dan Ar Rafi’i) mengatakan: ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’. Maka pendapat Ar Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah” (Fathul Mu’in, 1/274)

Sehingga dari sini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan :

[1] Bahwa ungkapan “Berbuka dengan yang manis” bukanlah hadits yang berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

[2] Untuk berbuka puasa, sebaiknya mendahulukan memakan kurma dalam jumlah ganjil. Apabila tidak ada, cukuplah dengan air putih saja. Dengan melakukan hal ini berarti kita telah mengerjakan sunnah sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Baru setelah itu kita bisa menyantap makanan manis lainnya untuk mendapatkan manfaat dari gula (glukosa dan fluktosa) yang terkandung didalamnya untuk badan kita.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

  • Ustadz Abu Kayyisa Zaki Rahmawan, Almanhaj.or.id
  • Ustadz Yulian Purnama, Muslimah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *