bermaafan
PUASA

Haruskah Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan?

Alomuslim.com Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

bermaafan

Sudah menjadi tradisi ditengah-tengah masyarakat muslim di negeri kita, apabila akan memasuki bulan Ramadhan, mereka saling bermaaf-maafan dengan teman atau saudaranya, baik dengan berkata langsung maupun dengan mengirimkan sebuah pesan melalui media telepon pintar. Apakah hal itu memang disyariatkan dalam agama Islam?

Apabila ditanyakan kepada mereka yang melestarikan tradisi ini, hampir sebagian besar diantara mereka beralasan dengan hadits yang terjemahannya sebagai berikut :

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin.

Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan : “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. 

Do’a Malaikat Jibril itu adalah : “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut :

  1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
  2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
  3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Ketika ditanyakan lebih lanjut kepada mereka yang mengamalkannya, tidak ada seorangpun yang menyebutkan para periwayat hadits tersebut. Jadi, bisa dikatakan mereka yang mengamalkan hal tersebut tidak mengetahui dalil yang harus dijadikan landasan untuk mengamalkannya.

Setelah ditelusuri lebih jauh, terdapat sebuah hadits yang hampir menyerupai hadits diatas. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (3/192) dan Ahmad (2/246, 254), yang terdapat dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah (3/192) juga pada kitab Musnad Imam Ahmad (2/246, 254) berbunyi sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.

Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”. Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/114, 406, 407, 3/295), juga oleh Adz Dzahabi dalam Al Madzhab (4/1682), dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (8/142), juga oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Qaulul Badi‘ (212), juga oleh Al Albani di Shahih At Targhib (1679).

Kedua hadits ini jelas berbeda secara isi dan maknanya. Mungkin telah terjadi sebuah kesalahan dari orang yang mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad tersebut, namun kemudian menyebarkannya dengan redaksi berbeda sehingga akhirnya sekarang dianggap sebagai dalil untuk mengamalkannya.

Jadi ketika ada orang berhujah dengan hadits tersebut untuk bermaaf-maafan sebelum bulan Ramadhan, maka hal ini bisa menjadi sebuah perkara baru yang diada-adakan dalam ibadah. Lalu, apakah salah ketika kita bermaaf-maafan menjelang bulan Ramadhan?

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (H.r. Bukhari, no. 2449)

Kata “اليوم” (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan segera karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Dari hadis ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Meski demikian, bagi orang yang memiliki kesalahan bertepatan dengan Sya’ban atau Ramadan, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf pada bulan ini, kepada orang yang pernah dizaliminya tersebut. Asalkan, ini tidak dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

  • Ustadz Ammi Nur Baits, Konsultasi Syariah.com
  • Ustadz Yulian Purnama, Muslim.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *