hikmah di balik musibah
SERBA-SERBI

Hikmah Di Balik Musibah Dan Bencana

Alomuslim.com – Beberapa waktu belakangan, saudara-saudara kita umat muslim di beberapa daerah kerap kali dihampiri berbagai musibah dan bencana. Seakan-akan musibah dan bencana datang silih berganti, berpindah-pindah menimpa dan mendatangi setiap daerah di negeri ini. Apa hikmah dibalik musibah dan bencana yang melanda negeri ini? Apakah Allah hendak mengazab penduduk negeri ini?

Musibah dan bencana bukanlah sebuah fenomena alam semata atau kejadian yang tidak disengaja terjadi. Setiap musibah dan bencana yang terjadi merupakan atas kehendak Allah dan tidaklah ia menimpa kepada orang atau tempat yang salah. Tidak bisa dikatakan, kalau musibah atau bencana akan luput dari orang-orang beriman atau tempat-tempat yang disucikan atau musibah dan bencana harusnya hanya menimpa orang-orang yang ingkar dan kufur kepada Allah.

Mungkin juga ada sebagian muslimin yang berpikir, kalau musibah dan bencana yang menimpa diri serta negeri mereka adalah ketidakadilan. Bagaimana tidak, ketika Allah menurunkan musibah dan bencana kepada mereka yang justru beriman kepada-Nya, sementara itu orang-orang kafir dan negeri-negeri mereka, tidaklah tersentuh musibah dan bencana sedikitpun. Mereka justru hidup damai, tenang dan sejahtera. Bukankah ini sebuah bentuk ketidakadilan?

Maka untuk pemikiran yang seperti itu kita katakan, naudzubillah tsumma naudzubillah. Bagi orang yang berpikir seperti itu atau sekedar terlintas dalam hatinya, maka sebaiknya ia segera bertaubat dan memperbanyak istighfar. Karena perlu dipahami oleh kita semua, bahwa musibah dan bencana yang Allah turunkan pada hakikatnya sebuah ujian untuk mengetahui kadar kualitas keimanan seorang hamba dan peringatan atas segala kemaksiatan yang mereka lakukan.

Musibah dan bencana yang terjadi merupakan akibat perbuatan tangan kita sendiri, akibat berbagai perbuatan dosa kita sendiri dan ia diturunkan sebagai teguran Allah atas perilaku kita. Allah berfirman :

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintas), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara meraka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al Ankabut : 40)

Maka ketika musibah atau bencana ditimpakan kepada kita, sesungguhnya Allah hendak memberikan teguran kepada kita agar bersegera taubat dan kembali kepada agama-Nya. Teguran kepada kita agar berhenti dari berbuat dosa dan kerusakan di muka bumi. Tetapi, apakah harus dengan musibah dan bencana yang menghancurkan seperti itu?

Ya, karena kita telah mengabaikan berbagai teguran-Nya yang kecil, yang tidak kita anggap sebagai peringatan untuk menghentikan perbuatan dosa yang kita lakukan. Cobalah kita introspeksi diri, pernahkah datang teguran-teguran Allah kepada diri kita yang kita abaikan?

Ketahuilah, berbagai penyakit, nasib sial, setiap kesulitan hidup, permasalahan rumah tangga, kerugian dalam usaha, bahkan hanya sekedar tersandung batu dijalan, sesungguhnya yang demikian merupakan teguran dari Allah agar kita berhenti dari berbuat dosa dan segera kembali kepada-Nya. Tetapi kita sering mengabaikan teguran-teguran tersebut, hingga akhirnya Allah turunkan sebuah peringatan yang keras agar kita benar-benar menyadari semua pelanggaran yang telah kita lakukan.

Maka, ketika musibah dan bencana itu menimpa diri dan negeri kita, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk segera berdzikir, berdoa dan memperbanyak istighfar. Beliau bersabda :

“Jika kalian melihat hal itu (bencana -ed), maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdoa dan beristighfar kepada-Nya.” (HR. Bukhari no. 999, Muslim no. 1518)

Segeralah kita sadar, bahwa tidaklah Allah menurunkan sebuah musibah dan bencana untuk memperingati kita agar kembali kepada-Nya dan menjadi hamba yang lebih baik dalam beribadah kepada-Nya. Ketika kita telah tunduk dan patuh kepada agama Allah, niscaya berbagai kenikmatan akan Allah turunkan kepada diri dan negeri kita. Allah berfirman :

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al Ma’idah : 66)

Wahai saudaraku, nasihat ini sesungguhnya untuk diriku dan juga untuk kita semua, bahwa musibah dan bencana merupakan bentuk kasih sayang Allah yang tidak kita pahami. Karena kita hanya melihatnya secara lahiriah berupa kehancuran di depan mata kita, tetapi kita tidak menyadari hikmah dibalik apa yang menimpa kita. Dan pahamilah, bahwa musibah dan bencana yang menimpa kita merupakan penghapus dosa dan menjadi sebab untuk mengangkat derajat kita disisi Allah.

Bagaimana keadaan kita seandainya Allah tidak turunkan musibah atau bencana kepada kita? Akankah kita berhenti dan segara bertaubat dari berbuat dosa serta kerusakan di muka bumi? Akakah kita sanggup menanggung semua dosa yang telah kita perbuat di akhirat kelak? Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *