Hikmah disyariatkannya shalat ied
DASAR ISLAM, SHALAT

Hikmah Disyariatkannya Shalat Ied

Alomuslim.com – Setiap umat beragama memiliki satu hari besar, dimana setiap umatnya dapat menghias diri dan keluar rumah dengan busana terbaiknya. Demikian halnya dengan umat muslim, maka dijadikanlah dua hari Ied sebagai hari raya umat Islam, yang dengannya setiap orang dapat menghibur diri dan saudaranya serta menggunakan pakaian yang terbaik.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

“Nabi shallallahu aaihi wa sallam datang ke Madinah pada masa jahiliyah memiliki dua hari dimana mereka bermain-main di hari itu, lalu beliau bersabda, ‘Aku telah datang kepada kalian, pada masa jahiliyah kalian memiliki dua hari dimana kalian bermain-main dihari itu. Dan aku telah menggantikan kedua hari untuk kalian dengan sesuatu yang lebih baik dari keduanya, yaitu ; Hari Raya Iedul Adha dan Hari Raya Iedul Fithri’.” (shahih. HR. Abu Dawud no. 1134, An Nasa’I 3/179, Ahmad 3/103, Al Baghawi no. 1098, dan yang lainnya)

Artinya, dua Hari Raya Ied ini ditetapkan dengan ketentuan syariat Allah yang telah dipilihkan untuk para hamba-Nya. Dan kedua Haria Raya Ied, sama-sama jatuh setelah pelaksanaan dua rukun Islam : Puasa Ramadhan dan Haji. Pada kedua Hari Raya itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan orang-orang yang menunaikan ibadah Haji.

Dua Hari Raya, Iedul Adha dan Iedul Fithri ditandai dengan shalat Ied yang dilakukan pada waktu matahari mulai meninggi, atau setelah berlalunya waktu terlarang untuk melakukan shalat. Mengenai tata cara, adab-adab, tempat shalat dan juga jumlah rakaat shalat, tidak ada perbedaan diantara keduanya.

Sementara mengenai hukum ibadahnya, para ulama berbeda pendapat menjadi tiga golongan ; ada yang menganggap hukumnya fardhu ‘ain, kemudian ada yang menganggap fardhu kifayah dan ada juga yang menganggapnya hanya sunnah muakkadah.

Hikmah-hikmah

Berbicara mengenai waktu shalat, antara shalat Iedul Adha dengan Iedul Fithri terdapat sedikit perbedaan. Shalat Iedul Adha lebih utama dikerjakan di awal waktu, salah satu hikmah dalam hal ini agar kaum muslimin dapat memanfaatkan waktu setelah shalat untuk menyembelih hewan kurban mereka. Sementara shalat Iedul Fithri disunnahkan untuk sedikit mengakhirkannya, hikmahnya adalah agar orang-orang masih memiliki kesempatan untuk menunaikan zakatnya.

Diantara dua shalat Ied ini juga, terdapat sunnah yang membedakan ketika hendak mengerjakannya. Ketika seorang muslim hendak mengerjakan shalat Iedul Adha, maka pagi harinya ia di sunnahkan untuk berpuasa hingga selesai menenuaikan shalat. Diantara hikmah dalam hal ini agar orang tersebut dapat menikmati hewan kurban sembelihannya setelah mengerjakan shalat.

Sementara ketika hendak berangkat menuju lokasi shalat Iedul Fithri, seseorang di sunnahkan untuk makan terlebih dahulu. Hikmahnya adalah untuk menghindari seseorang masih berpuasa pada saat Hari Raya Iedul Fithri. Karena Hari Raya Iedul Fithri merupakan hari untuk makan dan minum, sehingga seorang muslim diharamkan untuk berpuasa pada hari tersebut.

Salah satu hikmah terbesar dari pelaksanaan shalat Iedul Adha dan Iedul Fithri adalah ketika semua manusia keluar dari rumahnya, dengan mengenakan pakaian terbaiknya, kemudian berkumpul di satu tempat secara bersamaan. Sehingga saling memungkinkan bagi mereka untuk bertemu, bercengkerama, menyebarkan kebahagiaan dan juga saling mengucapkan selamat hari raya. Hal seperti itu belum tentu bisa terjadi di waktu-waktu lainnya.

Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *