Hukum Asuransi Menurut Islam

hukum asuransi

Hukum Asuransi Menurut Islam – Saat ini sudah sangat lumrah, kalau setiap orang memiliki jaminan asuransi atas diri mereka maupun harta berharga yang dimiliki. Asuransi telah menjadi kebutuhan pokok, karena setiap orang ingin mendapatkan ketentraman hidup dalam menghadapi resiko di hari esok.

Sehingga bermunculan berbagai jenis asuransi mulai dari asuransi kebakaran, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan hingga mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Bagaimana sebenarnya syariat islam dalam memandang Asuransi?

Asuransi merupakan perjanjian antara penanggung (perusahaan asuransi) dengan tertanggung untuk memberikan penggantian kepada tertanggung atas resiko kerugia yang tertera di dalam perjanjian dan tertanggung berkewajiban membayar premi kepada perusahaan asuransi. Semenjak pertama kali kemunculannya, asuransi telah diharamkan oleh para ulama baik perorangan maupun lembaga.

Hukum Asuransi Menurut Pandangan Islam

Para ulama islam sedunia yang berada di bawah OKI (Organisasi Konferensi Islam) pada konferensi ke II di Jeddah, Arab Saudi, telah bersepakat dengan mengeluarkan keputusan No. 9 (9/2) 1985, yang berbunyi, “Transaksi Asuransi dengan premi tertentu yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi merupakan transaksi dengan tingkat gharar (spekulasi) tinggi. Hal ini membuat hukum transaksi asuransi batal (menurut syariat). Oleh karena itu, transaksi ini diharamkan islam.”

Baca Juga : Bisnis MLM Dalam Islam

Beberapa hal yang terdapat dalam asuransi dan menyebabkan dihukumi haram yakni, :

1. Polis Asuransi Mengandung Gharar (ketidak-jelasan)

Tingkat gharar yang terkandung dalam asuransi sangatlah tinggi, karena pihak tertanggung harus membayarkan premi hingga batas waktu yang telah disepakati sementara dalam rentang waktu tersebut bisa jadi pihak tertanggung tidak mengalami kerugian sama sekali sehingga tidak memperoleh ganti rugi. Sementara bagi pihak penanggung (perusahaan asuransi) juga bisa jadi tidak memberikan ganti rugi sama sekali kepada pihak tertanggung jika resiko tidak terjadi.

Inilah hakikat gharar, ketidak-jelasan, apakah akan terjadi ganti rugi atau bahkan tidak sama sekali selama batas waktu yang disepakati, kedua pihak sama-sama tidak mengetahuinya ketika pertama kali membuat akad. Nabi ﷺ telah mengharamkan tukar-menukar (jual-beli) yang mengandung gharar, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa : “Nabi melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim)

2. Polis Asuransi Termasuk Qimar (Judi)

hukum asuransi Polis Asuransi Termasuk Qimar

Unsur qimar (judi) yang terjadi dalam asuransi yakni, ketika pihak tertanggung telah membayarkan sejumlah kecil premi kemudian terjadi resiko, maka pihak tertanggung bisa memperoleh uang ganti rugi dari pihak penangung (perusahaan asuransi) jauh lebih besar dari yang telah dibayarkan, dalam kondisi ini, pihak penanggung mengalami kerugian karena harus membayarkan selisih antara premi dengan ganti rugi yang dikeluarkan.

Namun ketika resiko tidak terjadi, maka pihak tertanggung akan mengalami kerugian karena telah membayarkan sejumlah premi, sementara bagi pihak penanggung dalam kondisi ini mengalami keuntungan karena tidak harus mengeluarkan ganti rugi. Ketika terjadi situasi, dimana satu pihak mendapatkan keuntungan sementara pihak lain mengalami kerugian, inilah sejatinya qimar. Allah ﷻ telah mengharamkan perjudian dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya arak, judi, berhala dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah : 90)

3. Polis Asuransi Termasuk Dalam Akad Tukar Menukar Uang dengan Uang (Sharf)

hukum asuransi tukar menukar uang

Ketika pihak tertanggung menerima uang ganti rugi, setelah menyerahkan sejumlah uang untuk membayarkan premi, inilah yang dimaksud dengan tukar-menukar uang dengan uang. Dalam akad tukar menukar uang dengan uang, bila uangnya sejenis, disyaratkan harus sama nominalnya dan harus serah terima tunai pada saat itu juga. Jika tidak terpenuhi salah satu syarat tersebut, maka akad tukar menukar uang dengan uang ini termasuk dalam riba.

Semoga umat muslim mau memperhatikan hal ini dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan, mengikhlaskan setiap kehilangan atau kerusakan harta benda yang dimilikinya, serta hanya memohon kesembuhan kepada Allah ﷻ atas sakit yang dideritanya. Insyaa Allah dalam tulisan yang lain akan disampaikan mengenai hukum Asuransi Syariah.

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *