Hukum Islam Terkait Tukar Menukar Cincin Tunangan
DASAR ISLAM, KELUARGA

Hukum Islam Terkait Tukar Menukar Cincin Tunangan

Alomuslim.com – Salah satu tradisi yang sudah menjangkiti masyarakat muslim adalah apa yang dipakaikan pasangan yang melakukan proses lamaran yakni berupa tukar menukar sebuah cincin yang disebut dengan ‘cincin tunangan’.

Laki-laki memberikan cincin tersebut kepada seorang wanita yang dipinangnya, yang kemudian diikuti dengan memakaikan cincin tersebut di jarinya, demikian pula sebaliknya. Jelas, pada saat memakaikan cincin tersebut, tangan mereka akan saling menyentuh bahkan hingga menggenggam, padahal mereka bukanlah mahram apalagi pasangan suami-istri. Bagaimana mungkin hal tersebut dibenarkan dalam syariat islam?

Rasulullah ﷺ pernah memperingati umatnya mengenai perkara tersebut. Beliau bersabda :

“Ditusuknya kepala seorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Ath Thabrani 20/211)

Biasanya cincin tunangan tersebut terbuat dari emas. Padahal telah ada dalil shahih larangan dari Nabi ﷺ tentang memakai cincin yang terbuat dari emas bagi laki-laki. Dari Abdul Lukh bin Abbas radhiallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Beliau melihat cincin emas ditangan seorang laki-laki, maka beliau melepaskannya lalu membuangnya seraya bersabda, ‘Salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api lalu meletakkannya di tangannya.’ Setelah nabi pergi, dikatakan kepada laki-laki itu, ‘Ambillah cincinmu, ambillah manfaatnya.’ Ia mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya selamanya, karena Nabi telah membuangnya’.” (HR. Muslim dan yang lainnya)

Beliau juga bersabda :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia memakai sutera atau emas.” (HR. Ahmad)

Sebagian orang kemudian memutuskan untuk mengganti dengan selain emas. Mereka menggantinya dengan cincin tunangan yang terbuat dari perak, sehingga tidak jatuh atau terkena larangan tersebut. Namun hal tersebut tetaplah tidak dibenarkan.

Karena tukar-menukar cincin tunangan bukan merupakan syariat yang diajarkan Islam, melainkan budaya kaum nasrani. Biasanya dalam tradisi kaum nasrani, seorang laki-laki meletakkan cincin di ibu jari si wanita kemudian berucap ‘Dengan nama bapa’. Kemudian meletakkan pada ujung jari telunjuk seraya mengucapkan, ‘Dengan nama anak’. Kemudian meletakkan pada jari tengah seraya mengucapkan, ‘Dengan nama roh kudus’. Lalu menyematkannya pada jari manis.

Rasulullah ﷺ telah melarang umatnya untuk mengikuti tradisi orang-orang diluar islam. Nabi ﷺ bersabda :

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Sehingga hukum tukar menukar cincin tunangan adalah haram, baik cincin tersebut terbuat dari emas maupun perak. Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Mahkota Pengantin, Majdi bin Mashur bin Sayyid Asy-Syuri (Pustaka at-Tazkia : 2016)
  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 3, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *