hukum jual beli barang kw
DASAR ISLAM, TRANSAKSI KEUANGAN

Hukum Jual Beli Barang KW Atau Imitasi

Alomuslim – Hukum Jual Beli Barang KW Atau Imitasi Saat ini kita banyak menjumpai dipasaran barang-barang dengan status KW atau imitasi. Para pejual maupun pembeli tidak ragu untuk bertransaksi jual beli barang tersebut. Karena dengan melakukan transaksi itu, baik penjual maupun pembeli sama-sama mendapatkan keuntungan.

Dari pihak penjual, mereka akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari barang yang dijualnya. Sementara dari pembeli, mereka akan mendapatkan keuntungan dengan mengeluarkan lebih sedikit biaya tetapi bisa mendapatkan barang dengan merek dan model serupa dari yang aslinya.

Barang KW atau imitasi sejatinya adalah pemalsuan merek dagang. Biasanya banyak dilakukan oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan besar dengan cara memproduksi barang yang serupa dengan barang dengan merek terkenal. Kemudian dibubuhkan merek atau logo atau simbol pada produk tiruannya sehingga menyerupai barang asli dari merek terkenal. Dengan demikian produsen akan mendapatkan keuntungan yang besar demikian halnya dengan penjual.

Pemalsuan barang dan menjualnya jelas akan merugikan banyak pihak, terutama bagi pemilik merek aslinya dan berujung pada konsumen atau pembelinya. Maka seharusnya penjual memahami tiga prinsip penting dalam jual beli.

1. Tidak Boleh Melanggar Hak Orang Lain

Setiap merek dagang dari produk tertentu dilindungi Undang-Undang dan memiliki hak cipta, sehingga apabila ada orang yang membuat tiruan dari barang tersebut, berarti ia telah melanggar hak pemilik merk dagang atas barang tersebut.

Dalil dalam prinsip ini adalah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

“Tidak halal harta seseorang kecuali dengan ridha pemiliknya.” (HR. Ahmad 5/72)

Sehingga berdasarkan dalil tersebut, seseorang tidak boleh memanfaatkan kepemilikan barang orang lain tanpa seizinnya. Demikian pula dalam merek dagang.

2. Tidak Boleh Membohongi dan Menipu Pembeli

Seorang penjual tidak boleh melakukan pembohongan atau penipuan atas barang dagangannya, dengan mengaku barang yang dijualnya adalah produk asli padahal barang yang dijualnya merupakan produk imitasi. jelas si penjual telah membohongi dan menipu pembeli yang ingin membeli barang dari produk yang asli. Atau sekalipun si pembeli diberitahukan bahwa barang yang dibelinya adalah barang KW atau imitasi, si penjual telah melanggar prinsip pertama karena mengambil hak orang lain.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di Neraka.” (HR. Ibnu Hibban 2/326)

3. Tidak Boleh Menyelisihi Peraturan Pemerintah

Jika ada undang-undang atau peraturan pemerintah yang dibuat untuk kemaslahatan umat ataupun dalam perkara yang mubah (dibolehkan), serta tidak menyelisi ketentuan Allah, maka hal tersebut harus ditaati.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda :

“Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam maksiat, maka boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” (HR. Bukhari no. 7144, Muslim no. 1839)

Bagaimana status hukum jual beli barang KW?

Para ulama berpendapat bahwa status akad jual beli barang KW yang tidak dijelaskan oleh penjual mengenai keadaan barang tersebut adalah sah, akan tetapi penjualnya telah melakukan dosa. Si penjual diancam dengan dosa besar karena telah melakukan penipuan.

Dalam menetapkan hukum mengenai status akad tersebut para ulama bersandar pada dalil dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

“Janganlah kalian melakukan tashriyah (membiarkan hewan ternak yang sudah menyusui untuk tidak diperah agar kelihatan banyak susunya saat dijual). Siapa yang terlanjur membeli hewan yang ditashriyah setelah ia memerah susunya, maka ia berhak memilih antara meneruskan untuk membeli atau jika ia ia tidak rela maka boleh mengembalikan hewan serta menarik uang dan ia harus membayar 1 sha’ kurma untuk pemilik hewan.” (HR. Bukhari, Muslim)

Pilihan yang diberikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada pembeli yang tertipu oleh penjual antara meneruskan pembelian atau mengembalikannya menunjukkan bahwa akadnya sah. Karena jika tidak sah, pasti Nabi akan membatalkan dan melarangnya.

Maka bagi penjual barang KW, bertaubatlah sekarang juga. Tidak ada sedikitpun keberkahan atas harta yang anda peroleh. Setiap muslim wajib bertakwa kepada Allah dan menempuh rezeki yang halal.

Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *