Hukum Makan Makanan Untuk Sesajen

makanan untuk sesajen

Alomuslim.com – Sesajen atau sajen, atau ada juga yang menyebutnya sesaji, adalah sejenis makanan yang dipersembahkan kepada dewa atau arwah nenek moyang atau juga kepada makhluk ghaib penguasa suatu tempat. Sesajen ini biasanya dimunculkan dalam ritual upacara adat di masyarakat yang memiliki kepercayaan tertentu.

Hukum memberikan makanan dalam bentuk sesajen adalah haram, bahkan bisa menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam kesyirikan. Karena perbuatan tersebut sama saja dengan mengadakan sekutu bagi Allah, yang diyakini mampu memberikan keberkahan dan menolak kesulitan bagi masyarakat yang melakukannya. Seperti ritual sedekah laut yang sering dilakukan oleh beberapa masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, terutama di sepanjang pantai selatan pulau Jawa.

Masyarakat yang melakukan ritual seperti itu meyakini, bahwa makanan sesajen yang mereka berikan merupakan bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih atau bisa juga sebagai sesembahan untuk memohon agar dijauhkan dari bahaya yang biasanya ditujukkan kepada makhluk ghaib penguasa tempat tersebut. Dan masyarakat juga meyakini makanan sesajen tersebut akan dimakan oleh makhluk ghaib tersebut.

Bolehkah Memakan Sesajen?

Pada dasarnya sesajen adalah makanan yang dipersembahkan kepada selain Allah, maka dalam hal ini perlu dicermati beberapa hal :

  • Hewan sembelihan

Hukum memakan hewan yang disembelih dan ditujukkan khusus untuk selain Allah adalah haram, demikian juga dengan hewan yang disembelih tanpa menyebut atau menyebut nama selain Allah. Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am : 121)

  • Makanan selain hewan sembelihan

Untuk makanan selain hewan sembelihan, misal seperti nasi, sayur, buah dan yang lainnya, menurut sebagian ulama dibolehkan untuk memakannya. Adapun alasannya adalah dengan menganggap bahwa makanan tersebut merupakan makanan yang telah dibuang, dan hukum asal makanan adalah halal. Jadi makanan tersebut tidak menjadi haram hanya karena perbuatan yang dikerjakanannya adalah perbuatan syirik.

Tetapi untuk kehati-hatian atau dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar, sebaiknya orang tersebut tidak memakannya. Dan menyampaikan kepada para pelaku yang memberikan makanan sesajen bahwa perbuatan yang mereka kerjakan adalah termasuk perbuatan syirik. Wallahu a’lam. 

Referensi :

  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Bolehkah Makan Sesajen Dan Makanan Tahlilan, Video Ceramah Dr. Firanda Andirja, MA (Jalan Muslim)
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like