Hukum Menjual Dan Membeli Barang Dengan Harga Murah Karena Penjual Segan Terhadap Pembeli

hukum menjual dan membeli barang dengan harga murah

Hukum Menjual Dan Membeli Barang Dengan Harga Murah Karena Penjual Segan Terhadap Pembeli – Dalam budaya masyarakat Indonesia, rasa sungkan atau rasa ‘tidak enak hati’ sering menjadi bagian dalam interaksi sosial keseharian. Sebagian besar masyarakat masih sangat menjunjung nilai tersebut dalam kehidupan mereka.

Tidak hanya terjadi dalam ranah pergaulan saja, terkadang hal tersebut juga sering terjadi ketika transaksi jual beli barang. Kita bisa mendapati, terkadang seorang pedagang menurunkan harga jual barangnya terhadap orang-orang tertentu, misalnya kepada saudara, tokoh masyarakat ataupun pejabat pemerintahan. Hal ini terjadi karena rasa segan si penjual terhadap pembeli.

Tetapi hal tersebut tidak terjadi dari sisi pembeli. Mereka tidak menawar harga barang menjadi lebih tinggi karena rasa segan terhadap penjualnya. Pembeli biasanya malah memanfaatkan situasi tersebut, untuk mendatangi toko si penjual karena tahu akan mendapatkan harga yang lebih murah bila dibandingkan ia harus membeli di tempat lainnya.

Apakah syariat Islam membenarkan jual beli seperti ini?

Hukum Islam telah melarang seseorang melakukan transaksi jual beli dengan terpaksa atau adanya unsur pemaksaan di dalamnya. Lalu, apakah transaksi jual beli seperti tersebut termasuk dalam kategori terpaksa atau adanya paksaan? Apabila dalam transaksinya si pembeli meminta diturunkan harganya dengan cara merayu penjual sampai si penjual merasa malu dan sungkan,

kemudian menjualnya dengan harga yang diinginkan pembeli, maka transaksi jual beli seperti ini termasuk ada unsur keterpaksaan dari penjualnya sehingga haram hukumnya.

Tetapi hal ini menjadi berbeda apabila situasinya si penjual menurunkan harga barang atas dasar suka, iba atau hormat tanpa adanya unsur keterpaksaan di dalamnya. Misalnya penjual menjual barang dengan harga lebih murah kepada orang yang dikenalnya seperti saudara, tokoh masyarakat ataupun orang miskin. Maka hal tersebut dibolehkan dan jual belinya dianggap sah.

Dengan alasan, bahwa kekurangan harga jual dari yang seharusnya dianggap sebagai sedekah. Sedangkan sedekah adalah halal hukumnya di dalam Islam.

Pernah terjadi dimasa Rasulullah , saat Jabir radhiallahu anhu hendak menjual untanya. Saat itu Rasulullah  melihat unta Jabir yang berjalan lambat lalu menawar untuk membelinya, maka Jabir berkata, ‘Aku hendak hadiahkan untukmu, wahai Rasulullah’.

Namun Nabi  tetap menawarnya berulang kali, sehingga Jabir menjualnya dengan harga 1 uqiyah (senilai dengan + 119 gr emas 24 karat). Akhirnya Nabi  membayarnya 1 uqiyah kemudian melebihkan 1 qirath (senilai dengan + 0,18 gr emas 24 karat). (HR. Muslim)

Dari kisah tersebut bisa dambil sebuah hikmah mulia yang dicontohkan baginda Nabi , dimana seseorang harusnya membeli dengan harga lebih mahal dari harga yang ditawarkan untuk membantu saudaranya. Jelas para sahabat sangat segan dengan Rasulullah  melebihi kepada siapapun, tapi akhlak dan kemuliaan Rasulullah telah memberikan pelajaran berharga pada umatnya.

Sangat disayangkan perilaku umat Islam pada zaman sekarang ini, mereka justru menawar  dengan sangat keras agar mendapatkan harga semurah mungkin hingga melupakan perasaan si penjual. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *