qadha puasa ramadhan
PUASA

Hukum Menunda Qadha Puasa Hingga Ramadhan Berikutnya

Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Perilaku yang amat disayangkan banyak dilakukan oleh umat muslim adalah menunda-nunda qadha puasa Ramadhan hingga mendekati Ramadhan berikutnya. Perilaku menunda qadha puasa ini, seringkali tidak terlepas dari dua kondisi ;

Pertama, Menundanya karena memang ada alasan (uzur).

Seperti jika sakit dan terus berlanjut sampai memasuki Ramadhan berikutnya. Maka dia tidak berdosa mengakhirkannya, karena ada uzur. Maka dia hanya mengqadha saja hari-hari yang dia berbuka puasa.

Kedua, Menunda qadha tanpa ada uzur.

Misalnya, dia mampu mengqadhanya, akan tetapi dia tidak mengqadha sampai memasuki Ramadhan lagi. Maka dia berdosa karena mengakhirkan qadha tanpa ada uzur. Para ulama sepekat dia harus mengqadha. Akan tetapi mereka berbeda pendapat apakah selain mengqadha diharuskan juga memberi makan satu orang miskin untuk sehari puasa yang ditinggalkan.

Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat, dia harus memberi makan. Mereka berdalil bahwa hal itu telah ada (yang melakukan) dari kalangan para shahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhillahu’anhum.

Sedangkan Imam Abu Hanifah rahimahullah berpendapat, tidak wajib qadha dengan memberi makan. Beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala hanya memerintahkan orang yang berbuka puasa bulan Ramadan untuk mengqadha saja tanpa menyebutkan makanan. Allah berfirman;

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’ (QS. Al-Baqarah: 184) [Silakan lihat Al-Majmu, 6/366, Al-Mughni, 4/400.]

Batas Waktu Qadha Puasa

Batas akhir diperbolehkannya seseorang mengqadha puasa adalah hingga bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan). Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Aisyah Radhiyallahu anha.

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

“Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,

الشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Terkait dengan apa yang dilakukan oleh Aisyah, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَان: أَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر

“Disimpulkan dari semangatnya Aisyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya.” (Fathul Bari, 4/191).Sehingga dalam hal ini tidak boleh bagi seseorang menunda-nunda atau mengakhirkan untuk mengqadha puasa hingga mendekati bulan Ramadhan berikutnya tanpa ada uzur syar’i.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

  • Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid, Islamqa.com
  • Ustadz Ammi Nur Baits, Konsultasi Syariah
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *