Hukum Perjodohan Dalam Islam

Alomuslim.com – Pada asalnya perjodohan tidak terlarang dalam syariat Islam. Sebagaimana para sahabat juga pernah melakukan perjodohan untuk anak-anak mereka. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menjodohkan anak perempuannya, Hafshah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu baru saja menjadi janda kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Maka dalam hal ini, apabila orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya dan kemudian jodoh yang dipilihkan cocok dengan anaknya, maka itu merupakan sesuatu yang sangat baik. Tetapi yang menjadi masalah adalah apabila jodoh yang dipilihkan ternyata tidak cocok dengan anaknya, sementara itu anaknya juga tidak berani menolak karena takut dianggap sebagai anak yang durhaka, maka ini merupakan sesuatu yang tidak baik.

Seorang anak mempunyai hak untuk menolak jodoh yang telah dipilihkan oleh orang tuanya, dan hal itu tidak termasuk dalam perbuatan durhaka. Sebagaimana pernah diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,

“Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad 1:273, Abu Daud no.2096, dan Ibn Majah no.1875)

Sementara bagi orang tua atau wali, tidak boleh memaksakan kehendak untuk menikahkan anaknya dengan calon yang dipilih olehnya. Karena menikah adalah hak anak, sehingga mereka harus ditanyakan terlebih dahulu kerelaannya untuk menikah dengan calon yang dipilihkan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Gadis tidak boleh dinikahkan sampai dia dimintai izin.” (HR. Bukhari 6968 & Muslim 1419).

Kalaupun si anak akhirnya terpaksa menikahi jodoh yang dipilihkan orang tuanya, tetapi ia masih merasa tidak rela untuk menikahinya maka status pernikahannya batal. Karena khawatir apabila terus dipaksakan pernikahannya hanya akan manjadi ajang untuk menzhalimi pasangannya. Namun, sekalipun pernikahannya batal, perpisahan harus dilakukan melalui ucapan talak yang dilontarkan suami. Sementara yang bisa dilakukan bagi wanita, meminta suaminya untuk mengucapkan kata cerai. Atau dia mengajukan ke pengadilan agar diceraikan hakim (fasakh). Mengingat ada sebagian ulama yang menilai pernikahan mereka sebagai pernikahan yang sah.

Wallahu a’lam bishawab.

 Referensi :

  • Nikah Paksa, Tidak Sah? Ammi Nur Baits (Konsultasi Syariah : 2015)
  • Menolak Jodoh Orang Tua, Durhaka? Ammi Nur Baits (Konsultasi Syariah : 2012)
  • Apakah Durhaka Menolak Perjodohan Orang Tua? Video singkat Dr. Firanda Andirja, Ma (Birrul Walidain : 2017)

Leave a Comment