Hukum Selamatan Atau Memperingati Kematian
DASAR ISLAM, KEMATIAN DAN JENAZAH

Hukum Selamatan Atau Memperingati Kematian

Alomuslim.com – Sudah menjadi tradisi dan budaya pada sebagian besar kaum muslimin, baik di negara kita maupun di negeri-negeri muslim lainnya, setiap kali ada seseorang yang meninggal, mereka membuat acara ‘selamatan’ dan juga peringatan kematiannya. Acara selamatan dan peringatan kematian ini biasanya dilakukan mulai dari hari pertama, kedua, dan ketiga juga beberapa hari setelahnya, yakni hari ke 7, 40, 100 dan 1.000.

Dalam acara selamatan, biasanya orang-orang berkumpul di rumah keluarga mayit kemudian mereka membacakan tahlil dan surat Yasin untuk mayit. Karena hal itu, tradisi ini di masyarakat kita dikenal dengan sebutan Tahlilan atau Yasinan. Lebih dari sebuah tradisi, acara selamatan dan peringatan kematian ini kemudian dimasukkan menjadi bagian dari agama sehingga dianggap sebagai sebuah ibadah oleh para pelakunya. Maka sering kali kita mendapati setiap ada kematian, semacam ada keharusan bagi keluarga mayit untuk mengundang orang-orang untuk melakukan acara selamatan kematian. Apakah acara selamatan atau Tahlilan atau Yasinan dan peringatan kematian merupakan ibadah yang dianjurkan?

Tahlil merupakan dzikir yang mulia, yakni ucapan Laa ilaaha illallaahu, sementara surat Yasin adalah salah satu surat dalam Qur’an yang apabila seseorang membacanya maka akan mendapatkan pahala. Jadi tahlil dan membaca surat Yasin termasuk salah satu ibadah yang mulia yang dianjurkan untuk setiap muslim mengerjakannya kapanpun dan dimana pun. Tetapi, apabila ibadah tersebut kemudian dikhususkan untuk acara selamatan atau peringatan kematian, maka dibutuhkan sebuah dalil yang memerintahkan hal tersebut. Ketika tidak ada dalil yang memerintahkannya, maka sebaiknya ditinggalkan karena ia pasti tertolak.

Telah ada sebuah keterangan dalam hal ini dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari 20, Muslim 1718)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim 1718)

Berdasarkan dalil tersebut, kemudian para ulama merumuskan sebuah kaidah, bahwa dalam perkara ibadah segala sesuatunya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan untuk mengerjakannya. Maka untuk acara selamatan kematian, ia adalah haram dikerjakan karena tidak ada dalil yang memerintahkan ataupun contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan hal tersebut. Tidak sekalipun beliau mengerjakan dan memerintahkan acara selamatan, padahal anak, paman dan para sahabat banyak yang meninggal semasa beliau hidup.

Maka ketika ditanyakan dalil perintah untuk mengerjakan acara selamatan, sebagian pelakunya akan beralasan bahwa yang mereka kerjakan adalah tradisi dari nenek moyang yang harus tetap dijaga. Padahal, alasan seperti itu sudah sering kali digunakan oleh kaum-kaum yang telah Allah adzab karena meninggalkan agama Allah demi membela ajaran nenek moyang mereka.

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (QS. Az Zukhruf [43] : 22)

Sebagian lainnya berpendapat dengan mengajukan pertanyaan yang seolah sangat logis untuk dipertanyakan ; Adakah dalil yang melarang hal itu? Padahal jawaban dalam hal ini sudah sangat jelas dengan dua hadits di atas. Yakni, ketika seseorang mengerjakan amalan yang tidak dicontohkan oleh baginda Nabi maka ia tertolak. Lalu buat apa menanyakan dalil yang melarang hal tersebut, sementara amalan yang dikerjakan sudah dipastikan tertolak. Seorang muslim yang pintar pasti tidak akan mengerjakan amalan yang sudah pasti tertolak, karena hal itu hanya sia-sia dan tidak bermanfaat. Lagi pula, bagaimana mungkin Rasulullah melarang satu persatu perbuatan yang baru muncul setelah beliau wafat?

Dalam hal ini sudah sangat jelas, bahwa acara selamatan kematian tidak memiliki satu pun dalil dari Al Qur’an dan hadits yang memerintahkan untuk mengerjakan hal tersebut. Sehingga dengan tidak adanya dalil maka amalan tersebut pasti tertolak. Sebaiknya kaum muslimin meninggalkan hal tersebut.

Wallahu waliyyut taufiq.

Refrensi :

  • 3 Syarat Disebut Bid’ah, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. (Rumaysho)
  • Mengenal Bid’ah : Selamatan Kematian Kan Sudah Jadi Tradisi?, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. (Rumyasho)
  • Tahlilan Termasuk Khilafiyah Atau Bid’ah, video singkat Dr. Firanda Andirdja, MA (Pakde Nono Youtube Channel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *