Hukum Seorang Wanita Berhaji
DASAR ISLAM, HAJI

Hukum Seorang Wanita Berhaji Tanpa Mahram

Alomuslim.com – Apabila seorang wanita telah memenuhi syarat-syarat wajib haji, yakni Islam, berakal, baligh, merdeka dan mampu, kemudian disyaratkan pula agar ditemani oleh suami atau mahramnya. Apabila tidak ada diantara keduanya, maka dia belum diwajibkan haji.

Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda :

“Hendaknya seorang laki-laki tidak berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali bersama mahramnya, dan hendaknya seorang wanita tidak bepergian bersama mahramnya.” Kemudian seorang lelaki berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku hendak pergi untuk melaksanakan haji dan aku mendapat bagian untuk ikut perang ini dan ini.’ Maka beliau bersabda, “Pergilah, laksanakan haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari 3006, Muslim 1341)

Sehingga menurut pendapat madzhab Hanafi dan Hanbali, seorang wanita wajib untuk pergi haji bersama suami atau mahramnya. Adapun madzhab Maliki dan Syafi’i menilai bahwa keberadaan mahram bukanlah syarat yang wajib dalam haji, tetapi mereka mensyaratkan amannya perjalanan dan adanya teman yang amanah. Ketentuan ini berlaku dalam haji yang wajib. Adapun haji sunnah, maka seorang wanita tidak boleh melaksanakannya kecuali bersama seorang mahram, sesuai kesepakatan para ulama.

Meskipun menurut madzhab Maliki dan Syafi’i berhaji dengan mahram bukanlah syarat wajib, tetapi seorang wanita tetap harus meminta izin kepada suami untuk melaksanakannya. Apabila suami tidak mengizinkannya, maka dia tetap boleh pergi haji tanpa seizin suaminya karena suami tidak berhak melarangnya untuk menunaikan kewajiban hajinya. Hak suami tidak lebih diutamakan daripada kewajiban terhadap Allah (fardhu ‘ain), seperti haji, puasa Ramadhan dan lainnya.

Namun, apabila seorang wanita tetap menunaikan haji tanpa didampingi suami atau mahram, memang tidak membatalkan keabsahan hajinya, hanya saja ia berdosa karena bepergian tanpa mahram. Sebagaimana larangannya disebutkan dalam hadits di atas. Insyaa Allah, inilah pendapat yang lebih kuat dan dalam rangka mengambil kehati-hatian. Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *