Hukum Seputar Jual Beli Online

Alomuslim.com – Hukum Seputar Jual Beli Online Kemajuan teknologi di segala bidang, termasuk juga dalam bidang informatika telah merambat ke berbagai aspek kehidupan manusia. Interaksi manusia yang pada masa lampau mensyaratkan harus saling tatap wajah, tetapi kini bisa dilakukan hanya melalui telepon genggam bahkan dari jarak yang sangat jauh sekalipun.

Kemajuan informatika ini juga sedikit banyak telah merubah sistem perdagangan tradisional, yang mengharuskan seorang pembeli untuk bertemu dengan penjual, tetapi pada hari ini semua dapat dilakukan hanya dengan menggunakan segenggam telepon. Seseorang kini bisa membeli barang atau jasa apapun dari belahan dunia manapun, hanya dari rumahnya dengan bantuan koneksi internet.

Kini berbagai jenis transaksi dapat dilakukan melalui aplikasi di telepon genggam, mulai dari jual beli barang, pemesanan kamar hotel atau tiket pesawat, pembayaran tagihan listrik atau air, transfer uang, penukaran mata uang dan lain sebagainya. Transaksi model ini dikenal dengan transaksi jual beli online.

Beberapa Ketentuan Hukum Seputar Jual Beli Online

Transaksi jual beli mensyaratkan adanya ijab  dan qabul, sehingga setiap transaksi jual beli harus memenuhi syarat tersebut. Dalam transaksi jual beli online penyediaan aplikasi permohonan barang oleh pihak penjual di aplikasinya merupakan ijab dan pengisian serta pengiriman aplikasi yang telah diisi oleh pembeli merupakan qabul.

Setelah terjadi ijab dan qabul, pihak penjual meminta pembeli untuk mentransfer uang sesuai dengan kesepakatan. Dan setelah uang diterima, penjual mengirim barang kepada pembeli melalui jasa pengiriman barang atau bukti pelunasan transaksi.

Bagaimanakan syariat Islam menyikapi jual beli online?

Para ulama bersepakat bahwa transaksi yang disyaratkan tunai serah terima barang dan uang tidak dibenarkan untuk dilakukan melalui telepon dan toko online, seperti jual beli emas dan perak. Tetapi untuk barang yang tidak disyaratkan serah terima tunai dalam jual belinya, yaitu seluruh jenis barang kecuali emas dan perak serta mata uang, dapat disamakan dengan jual beli melalui surat menyurat.

Transaksi jual beli online termasuk yang dapat disamakan dengan jual beli surat menyurat. Maka untuk menyikapi transaksi jual beli online, ada tiga situasi yang harus dipahami seputar kepemilikan barang.

1. Penjual Memiliki Barang Yang Ditampilkan di Toko Onlinenya

Para ulama berbeda pendapat mengenai jual beli yang dilakukan oleh penjual yang telah memiliki barang yang ditampilkan di toko onlinenya. Pendapat yang terkuat adalah membolehkan transaksi jual belinya.

Tetapi yang perlu diperhatikan oleh penjualnya adalah ia harus memberikan spesifikasi barang dengan jelas, seperti penjelasan tentang warna, ukuran, model, jenis dan lain-lainnya yang mempengaruhi harga jual, sehingga pembeli dapat megetahui kondisi barang yang akan dibelinya dengan rinci. Apabila hal itu tidak dilakukan, maka hukumnya haram karena termasuk jual beli gharar (tidak adanya kejelasan).

2. Pemiliki Toko Online Merupakan Agen Dari Pemilik Barang

Untuk kondisi yang kedua, penjual atau pemilik toko online menawarkan barang orang lain, yang sebelumnya ia telah membuat kesepakatan dengan pemilik barang, agar diberi kepercayaan untuk menjual barang tersebut. Status penjual menjadi agen bagi pemilik barang dan mendapatkan komisi dari setiap barang yang dijualnya.

Maka statusnya dalam pandangan syariat Islam adalah sebagai wakil yang sama hukumnya dengan pemilik barang. Tetapi barang yang akan dijualnya dipersyaratkan telah dimiliki oleh pemilik barang, sebelum dijual oleh pemilik toko online.

3. Pemilik Toko Online Belum Memiliki Barang Yang Ditampilkan dan Juga Bukan Sebagai Agen Pemilik Barang

Para ulama telah bersepakat mengenai kondisi yang ketiga ini, bahwa tidak sah hukumnya jual beli jika pemilik toko online tidak memiliki barang yang ditampilkan di toko onlinenya, karena ia menjual barang yang bukan miliknya.

Biasanya proses yang dilakukan oleh penjual adalah sebagai berikut : pada saat pembeli mengirim aplikasi pemesanan barang, penjual akan menghubungi pemilik barang untuk menanyakan ketersediaan barang yang dipesan tanpa melakukan transaksi jual beli. Setelah penjual meyakini ketersediaan barang, kemudian ia meminta pembeli mentransfer uang ke rekeningnya atau ke rekening bersama milik market place. Setelah uang masuk, barulah ia membeli barang tersebut dan mengirimkannya kepada pembeli.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah  yang diriwayatkan dari Hakim bin Hazm radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

“Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedan tidak kumiliki, apakah boleh aku menjualnya, kemudian aku membeli barang yang diinginkannya dari pasar? Maka Nabi menjawab : ‘Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki!’.” (Shahih. HR. Abu Dawud)

Pembahasan mengenai hukum seputar jual beli online merupakan pembahasan yang sangat panjang, Insyaa Allah kami akan sampaikan artikel berikutnya untuk memperjelas mengenai status hukum transaksinya.

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmidzi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Comment