Hukum Transaksi Jual Beli Dengan Cara Pre Order
DASAR ISLAM, TRANSAKSI KEUANGAN

Hukum Transaksi Jual Beli Dengan Cara Pre Order

Alomuslim.com – Dalam transaksi jual beli, baik online maupun konvensional, ada sebuah metode yang dikenal dengan istilah Pre Order. Dalam transaksi dengan metode Pre Order, berlaku sebuah ketentuan; pembeli yang memesan sebuah barang, terkadang diminta untuk melakukan pembayaran baik secara penuh maupun sebagian terlebih dahulu.

Setelah uang diterima, penjual akan melakukan proses pembuatan ataupun pemesanan barang tersebut kepada pihak produsen dengan jangka waktu tertentu. Setelah barang jadi atau ada pada penjual baru ia mengirim atau menyerahkan barangnya kepada pembeli, apabila pembeli belum melunasi maka terlebih dahulu harus dilunasi baru barang diterima.

Ada tiga hukum dalam transaksi dengan metode pro order berdasarkan status barang :

  1. Barang yang menjadi objek transaksi belum tersedia dan butuh proses pembuatan.

Transaksi model seperti ini hukumnya diperbolehkan, baik pembayaran dilakukan tunai di awal atau pada saat barang diterima atau juga dengan cara angsuran berkala. Hal ini berdasarkan apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika memesan untuk dibuatkan cincin dari emas, yang kemudian diikuti oleh para sahabat. (HR. Bukhari)

  1. Barang yang menjadi objek transaksi sudah ada di tangan produsen, dan pembayaran dilakukan oleh pembeli kepada penjual, di awal dengan cara tunai pada saat akad dibuat.

Transaksi model ini juga dibolehkan, dan yang seperti ini dinamakan dengan salam. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

”Barangsiapa yang melakukan akad salam, maka hendaklah ia menyerahkan (uang pembayaran tunai di depan) dan takarannya jelas, beratnya jelas, serta waktu penyerahannya juga jelas.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Barang yang menjadi objek transaksi sudah tersedia di tangan produsen dan pembayaran dilakukan pembeli kepada penjual dengan cara tidak tunai, terkadang dengan angsuran atau terkadang dibayar keseluruhan setelah barang diterima.

Transaksi yang seperti ini tidak dibolehkan (haram), karena termasuk dalam larangan menjual barang yang belum dimiliki oleh penjual kepada pembeli. Selain itu faktor yang membuatnya tidak diperbolehkan, karena uang pembayaran tidak dibayar tunai di depan.

Wallahu Ta’ala a’lam bishawab.

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *