Hukum transaksi Ttitip belanja secara online
DASAR ISLAM, TRANSAKSI KEUANGAN

Hukum Transaksi Titip Belanja Secara Online

Alomuslim.com – Hukum transaksi Ttitip belanja secara online, Pesatnya kemajuan teknologi telah merubah pola hidup masyarakat. Dimana sebagian besar waktu dan aktivitas mereka dihabiskan dari rumah ataupun tempat duduk di kantor, untuk menikmati berbagai aplikasi, mulai dari permainan, media sosial, hingga belanja secara online hanya dengan menggunakan perangkat telepon genggam didukung oleh jaringan internet.

Kemajuan teknologi jelas telah memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, tetapi di lain sisi ia juga memiliki dampak negatif, yakni munculnya rasa malas dari pengguna untuk bergerak, berinteraksi dengan lingkungan ataupun untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadinya, semisal membeli makan, pakaian atau kebutuhan lainnya.

Pada saat ini para pengguna telepon genggam diberikan kemudahan oleh para pengembang aplikasi, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Seperti misalnya, yang saat ini sedang marak yakni aplikasi yang memiliki fitur untuk melayani transaksi titip belanja kebutuhan secara online.

Melalui fitur dalam aplikasi tersebut, pengguna tinggal memilih jenis barang atau kebutuhan yang ingin dibelinya. Kemudian dari pihak pengembang aplikasi akan membelikan terlebih dahulu titipannya dengan menggunakan uang dari kurir. Setelah itu barang titipan akan diantar oleh kurir, dan menyerahkannya kepada penitip. Transaksi ditutup dengan penitip membayar harga barang sesuai dengan yang di aplikasi, lalu ditambah dengan uang jasa layanan titipan.

Transaksi seperti ini jelas sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak. Keuntungan bagi pihak penitip, ia tidak perlu keluar dari tempatnya untuk membeli kebutuhannya, sehingga lebih hemat waktu, tenaga dan juga biaya. Sementara bagi pihak pengembang aplikasi dan juga kurir, mereka  mendapatkan keuntungan dari uang jasa layanan titipan.

Transaksi layanan titip belanja seperti ini sangat terasa manfaatnya bagi pengguna jasa layanan dan memberikan kemudahan bagi mereka untuk memenuhi sebagian kebutuhannya. Sementara, memberikan kemudahan kepada seseorang merupakan bagian dari syariat Islam. Rasulullah pernah bersabda :

“Berilah kemudahan dan jangan menyulitkan! Beri kabar gembira dan jangan beri kabar ketakutan!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun bila dalam transaksi layanan titip belanja ini terdapat hal-hal yang diharamkan, maka kemudahan tersebut berubah menjadi sesuatu yang diharamkan serta akan menyeret pelakunya kepada berbagai kesusahan di dunia dan akhirat.

Tinjauan syariat

Hukum asal menitipkan belanjaan kepada seseorang adalah diperbolehkan, sebagaimana terdapat penjelasan dalam kisah Ashabul Kahfi di dalam Al Qur’an.

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut.” (QS. Al Kahfi : 19)

Ayat tersebut menjelaskan tentang dibolehkannya meminta atau menyuruh kepada seseorang untuk mewakilkan mereka membelikan makanan. Bila yang demikian diperbolehkan, maka hukum mengambil upah dari transaksi layanan titip sebagai imbalan jasa juga diperbolehkan.

Namun dalam praktek transaksi layanan titip secara online yang ada saat ini, ada sebagian yang menggunakan cara meminjam uang dari kurir untuk membelikan barangnya terlebih dahulu, kemudian uang tersebut akan diganti pada saat barang diterima oleh pengguna jasa.

Pada dasarnya transaksi seperti itu juga masih diperbolehkan, selama tidak ada penambahan nilai harga barang karena pinjaman dari kurir. Tetapi apabila ada penambahan nilai barang dari harga yang tertera di aplikasi, selain dari upah layanan kirim barang, maka transaksinya bisa terjatuh pada hal yang dilarang. Dan itu bisa termasuk dalam kategori riba.

Kaidah ilmu fikih menyatakan bahwa setiap pinjaman yang memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman adalah riba. Meskipun keuntungan tersebut diakui sebagai bagian dari imbalan jasa dalam mencari barang. Maka ia terjatuh pada hukum haram yang lainnya, yakni menggabungkan antara akad pinjaman dengan jual beli. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak halal menggabungkan antara akad pinjaman dan jual beli.” (hasan. HR. Abu Dawud)

Kesimpulan

Terkait larangan  menggabungkan antara akad pinjaman dengan jual beli, sebagian ulama fikih kontemporer berpendapat, yang dilihat adalah akad yang dominan. Mereka menafsirkan maksud pelarangan pada hadits tersebut adalah apabila yang terjadi pinjaman menjadi akad utama (dominan), sementara jual beli hanya syarat tambahan, maka ini masuk dalam larangan yang dimaksud. Sementara apabila akad pinjaman hanya menjadi imbas atau dampak dari jual beli, maka yang seperti ini diperbolehkan.

Kondisi yang lainnya, apabila bisa dipastikan pihak pengembang aplikasi melalui kurirnya tidak mengambil untung dari transaksi pinjaman untuk membelikan barang atau dari nilai harga barang, dan hanya mengambil keuntungan dari jasa mengantarkan barang titipan saja, maka dalam hal ini transaksinya dibolehkan.

Tetapi, pada hari ini pihak pengembang aplikasi telah menggunakan sistem transaksi non tunai dalam setiap layanan titip belanja. Dimana penitip harus melakukan deposit atau top up terlebih dahulu di akun miliknya, sehingga ketika ingin melakukan pesanan titip belanja, saldonya akan terpotong otomatis sehingga tidak mengharuskan pinjam uang dari kurir.

Untuk permasalahan pembayaran dengan cara yang kedua ini, insyaa Allah apabila diberikan kesempatan akan kami bahas dalam satu artikel tersendiri.

Referensi :

  • Harta Haram Muamalat Kontemporer, Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)
  • Hukum Go Food dan Riba, Ammi Nur Baits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *