hukum zakat barang dagangan
DASAR ISLAM, ZAKAT

Hukum Zakat Barang Dagangan

Alomuslim.com – Bagi para pedangan wajib mengetahui hukum mengenai barang yang diperjual-belikannya, apakah ada kewajiban zakat atas barang tersebut? Para ulama berbeda pendapat mengenai zakat barang dagangan. Pendapat ulama ini digolongkan menjadi dua pendapat, diantaranya :

1. Wajib Dikeluarkan Zakat Atas Barang Dagangan

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, dan sebagian dari mereka mengatakan bahwa pendapat ini telah menjadi Ijma’ (kesepakatan) oleh para sahabat dan tabi’in. Para ulama yang mendukung pendapat ini menggunakan beberapa dalil dari Al Qur’an, Sunnah, atsar para sahabat dan tabi’in serta qiyas.

a. Dalil dari Al Qur’an ;

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah : 267)

Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, menafsirkan makna dari ‘dari hasil usahamu’ adalah perdagangan.

b. Dalil dari Sunnah ;

Para ulama menggunakan dalil berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ yang disampaikan kepada Mu’adz, ‘…dan beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan zakat pada harta benda mereka..’

Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa barang dagangan merupakan harta benda. Ini semua dimasukkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat…’ (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907)

Karena manakala pelaku jual beli ditanya , ‘Apakah tujuan kamu dengan perdagangan ini?’ maka ia akan menjawab, ‘Emas dan perak (harta benda).’

c. Dalil dari Atsar para sahabat ;

Dari Ibnu Abdul Qari, dia berkata, ‘Aku bertugas di baitul mal pada masa khilafah Umar bin Khaththab. Ketika tiba masa pengeluaranzakat, dia mengumpulkan harta benda (barang dagangan) para pedagang, kemudian menghitungnya, baik yang ada saat itu (al hadhir) maupun yang tidak dapat dihadirkan (al gha’ib). Dia lalu mengambil zakat dari harta yang ada saat itu dengan memperhitungkan yang ada dan yang tidak ada saat itu.’

Sementara dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Tidak ada kewajiban zakat pada barang perabotan dan lainnya, kecuali jika diperdagangkan.’ (Shahih. HR. Imam Syafi’i 2/86, Abdur Razak 4/97, Al Baihaqi 4/147)

d. Dalil dari Qiyas ;

Barang-barang dagangan adalah harta yang sengaja (dimaksudkan) untuk dikembangkan, maka ia menyerupai tiga jenis yang diwajibkan zakat padanya, yaitu ; naqdain (emas dan perak), hewan ternak dan tanam-tanaman.

2. Tidak Diwajibkan Zakat Atas Barang Dagangan

Ini merupakan pendapat ulama dari madzhab dzahiriyah dan orang-orang yang mengikutinya, seperti Syaukani, Shadiq Khan dan Al Albani. Diantara dalil yang digunakan oleh para ulama ini adalah hadits Qais bin Abi Gharizah, dia berkata, ‘Rasulullah menemui kami pada saat kami menjual budak yang kami namakan dengan samasirah (calo/perantara), beliau bersabda ;

“Wahai para pedagang, sesungguhnya perdagangan kalian ini kerap diliputi kekeliruan/kesia-siaan dan sumpah, maka padulah (campurlah) ia dengan sedekah (zakat), atau sebagian dari sedekah.” (Shahih. HR. Ahmad 4/6, An-Nasa’i 7/14, dan yang lainnya)

Ibnu Hazm rahimahullahu berkata, ‘Sedekah ini adalah kewajiban yang tidak ditentukan, akan tetapi hal ini berlaku jika mereka baik, dan akan dikenakan kafarat (denda) jika perdagangan mereka diliputi sesuatu yang membuat jual beli mereka tidak sah lantaran adanya kekeliruan/kesia-siaan dan sumpah.’

Pendapat pertama, yang merupakan pendapat mayoritas ulama, lebih kuat dalam hal ini dengan dalil-dalil yang digunakan. Wallahu ta’ala ‘alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *