ijtima ulama
SERBA-SERBI

Apakah Dibutuhkan Ijtima Ulama Untuk Menentukan Calon Presiden ?

Alomuslim.com – Dalam sistem politik demokrasi seperti di negara kita, jarang bahkan hampir tidak pernah kita mendengar adanya istilah ijtima ulama, yang dilakukan untuk menentukan atau memberikan rekomendasi seorang calon Presiden. Apakah sebenernya ijtima ulama tersebut? Apakah dibutuhkan untuk menentukan calon Presiden?

Ijtima secara bahasa memiliki arti bertemu atau berkumpul. Sehingga Ijtima ulama bisa diartikan sebagai pertemuan atau berkumpulnya para ulama untuk membahas hal-hal yang terkait dengan urusan agama dan umat. Hasil dari ijtima dapat berupa sebuah rekomendasi atau keputusan untuk menyelesaikan perkara agama dan permasalahan umat.

Sementara itu, menentukan calon presiden termasuk dalam salah satu urusan agama. Bahkan ia termasuk perkara besar dalam urusan agama. Karena hal tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan kepentingan dan hajat hidup setiap warga negara. Oleh sebab itu, ulama memiliki peran untuk ikut mengatur dan menentukan calon presiden.

Urgensi Ijtima Ulama

Dalam sistem politik demokrasi, seseorang harus melalui beberapa tahap sehingga bisa ditetapkan sebagai calon presiden. Seorang bakal calon harus melalui proses penyaringan yang dilakukan oleh partai politik, setelah lolos, ia akan diajukan oleh partai pengusung kemudian mendaftarkan diri pada komisi penyelenggara pemilihan dan baru bisa ditetapkan sebagai calon presiden.

Dengan sistem yang seperti itu, tidak menutup kemungkinan terjadi beberapa manipulasi atau kecurangan yang dilakukan, baik oleh orang yang hendak mencalonkan atau dari partai politiknya. Sehingga tidak dapat menjamin bahwa calon yang diusulkan oleh partai politik adalah orang yang baik.

Disitulah letak urgensinya dilakukan Ijtima ulama, yakni untuk menyaring bakal calon yang memiliki akhlak yang baik, mampu menjalankan amanah dan bekerja secara profesional, baru kemudian diajukan kepada pemilih. Sehingga peran partai hanya menjadi pendukung dari calon yang telah ditentukan oleh hasil ijtima ulama. Partai harus tunduk dengan hasil keputusan ijtima.

Namun, yang sangat penting untuk diperhatikan, ulama yang bisa ditetapkan sebagai peserta Ijtima, haruslah para ulama yang memiliki kompetensi dan keilmuan sebagai ulama. Bukan orang yang menganggap dirinya ulama, ataupun diklaim sebagai ulama oleh kelompok tertentu. Hal ini untuk menghindari potensi adanya oknum yang ingin meyusupkan kepentingan kelompoknya.

Ijtima dalam sejarah Islam

Ijtima pernah dilakukan oleh umat Islam ketika mengangkat Khulafaur Rasyidin. Dalam prosesnya, diantara para sahabat yang paling mulia, yang paling alim diantara kaum muslimin pada saat itu, berkumpul untuk memutuskan seseorang yang akan menjadi pemimpin. Sementara umat muslim hanya menunggu hasil dan kemudian membaiat pemimpin yang diputuskan oleh hasil ijtima.

Dan proses pemilihan tersebut terbukti berhasil. Dengan proses tersebut dapat menghasilkan pemimpin yang baik, persatuan umat tetap terjaga dan terbebas dari pergesekan karena kepentingan kelompok. Semua orang pasti mengetahui kisah khulafaur rasyidin dalam memimpin umat muslim, yang wilayahnya tidak hanya di tanah Arab tetapi juga sampai ke Eropa dan Afrika.

Maka oleh sebab itu, untuk mendapatkan pemimpin yang baik, harus dilakukan sebuah cara yang baik oleh orang-orang yang paling baik. Ulama merupakan representasi orang baik yang memiliki posisi netral, terbebaskan dari kepentingan politik ataupun kekuasaan. Dengan demikian ulama akan membawa kebaikan untuk agama dan umat.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi : –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *