Inilah Bahaya Menganggap Sial Karena Sesuatu
DASAR ISLAM, KEIMANAN

Inilah Bahaya Menganggap Sial Karena Sesuatu

Alomuslim.com – Pernahkah anda mendengar pernyataan bahwa angka 13 atau 4, sebagai angka sial? Pernahkah anda berpikir kalau tidak melakukan sesuatu hal, maka anda akan medapatkan kesialan? Pernahkan anda memiliki sesuatu yang disebut dengan benda keburuntungan? Dan hal-hal lainnya yang seperti itu?

Kalau anda bilang pernah, maka ketahuilah sesungguhnya anda telah terjatuh kedalam sebuah perbuatan yang sangat dibenci Allah, yakni kesyirikan. Bersegeralah anda bertaubat, dan tinggalkan semua pemikiran dan juga keyakinan terhadap hal seperti itu.

Dalam syariat Islam, hal seperti itu disebut dengan thiyarah atau tathayyur, yang bermakna merasa sial karena sesuatu. Ketika seseorang menganggap sesuatu, -baik benda, angka, nama-nama, hewan dan lainnya- dapat membawa keberuntungan atau menolak kesialan, maka itulah hakikatnya thiyarah.

Thiyarah merupakan termasuk dalam perbuatan syirik, dan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Bukhari no. 909 Abu Dawud no. 3910, dan yang lainnya.

Pada hakikatnya thiyarah merusak keimanan seseorang, oleh sebab :

Pertama, orang tersebut tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa bergantung pada sesuatu selain Allah dalam urusannya. 

Kedua, orang itu bergantung kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat dan menolak kesialan, serta hidup dalam bayang-bayang takhayyul dan cerita-cerita yang seperti itu.

Akhirnya karena pengaruh thiyarah banyak orang-orang merasa takut dengan angka 13 atau 4, merasa khawatir lewat suatu tempat tanpa harus ‘permisi-permisi”, tidak berani memakai baju hijau kalau pergi ke pantai selatan dan sebagainya. Dan pada akhirnya, hidup mereka menjadi tidak tenang karena mempercayai takhayyul.

Padahal semua yang terjadi kepada makhluk adalah atas kehendak Allah, maka cukuplah Allah sebagai pelindung dan Dialah sebaik-baik penolong.

Referensi :Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka Imam Asy-Syafi’i : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *