Penjelasan Mengenai Istilah-Istilah Dalam Hadist

Istilah-Istilah Dalam Hadist

Alomuslim.com – Seringkali terjadi kesalahpahaman ditengah-tengah kaum muslimin mengenai suatu hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian besar kaum muslimin menganggap bahwa setiap teks hadits yang disandarkan kepada Rasulullah, dapat digunakan sebagai dalil dalam beribadah. Mereka tidak lagi memperhatikan status hadits tersebut, apakah derajatnya shahih, dhaif atau malah maudhu.

Istilah-Istilah Dalam Hadist

Maka untuk memberikan pemahaman kepada kaum muslimin, berikut kami sampaikan penjelasan mengenai istilah-istilah yang sering digunakan dalam menjelaskan derajat hadits :

1. Hadits

Setiap perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan yang berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dijadikan sebagai landasan syariat Islam.

2. Atsar

Segala sesuatu baik perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan yang berasal dari Sahabat dan juga disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

3. Hadits Qudsi

hadits yang maknanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi redaksinya berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

4. Hadits Mutawatir

hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi (orang yang meriwayatkan hadits) dalam setiap thabaqah (periode), sehingga mustahil mereka semua bersepakat untuk berdusta.

5. Hadits Ahad

hadits yang sanadnya (rangkaian orang yang meriwayatkan hadits) tidak mencapai derajat mutawatir.

6. Hadits Shahih

hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, jujur, dipercaya dan memiliki hafalan serta catatan yang akurat dari awal sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

7. Hadits Hasan

hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, jujur, dipercaya dan memiliki hafalan tetapi keakuratannya kurang dari awal sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

8. Hadits Dha’if

hadits yang memiliki kelemahan dalam dua sebab : terputusnya sanad dan cacatnya (kekurangan tetapi bukan dalam hal fisik) perawi. Hadits dhaif tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

9. Hadits Munkar

hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang dha’if (lemah), dan riwayatnya bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqah (terpercaya). Atau perawinya banyak lalai dan kefasikannya sangat nampak.

10. Hadits Maudhu

hadits palsu dan dibuat-buat yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang dalam sanadnya terdapat perawi yang dinyatakan sebagai pendusta.

 11. Marfu’

riwayat yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir) atau sifat ; baik sanadnya bersambung atau terputus.

12. Mauquf

riwayat yang disandarkan kepada Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, dan persetujuan (taqrir); atau riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada Sahabat dan tidak sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik sanadnya tersambung atau terputus.

Referensi : Bulughul Maram, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *