I’tikaf dan Hukum Melaksanakannya
DASAR ISLAM, PUASA

I’tikaf Dan Hukum Melaksanakannya

I’tikaf Dan Hukum Melaksanakannya – Salah satu amalan yang populer di bulan Ramadhan selain solat Taraweh adalah i’tikaf? Tapi tau ga sih sebenarnya i’tikaf itu apa? Dan apa hukumnya? Berikut penjelasannya.

I’tikaf secara bahasa adalah mendiami atau menetapi sesuatu, baik sesuatu itu berupa suatu hal yang baik maupun suatu hal yang buruk. Kata i’tikaf juga digunakan untuk mendiami suatu hal yang buruk tercermin dalam firman Allah: ya’kifuuna ‘ala ashnaam lahum (orang-orang kafir beri’tikaf di hadapan berhala-berhala yang mereka miliki)

Ia juga bisa juga berarti mendiami suatu hal yang baik, seperti dalam firman Allah: wa laa tubaasyiruu hunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (dan janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang beri’tikaf di masjid).

Meski makna i’tikaf berbeda dan hampir bertentangan, namun ulama sepertinya mengkrucutkan maknanya ke dalam makna yang sama yakni berdiam diri di dalam masjid. Ulama Syafi’iyyah sebagaimana dikutip dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, menyebut bahwa i’tikaf adalah kegiatan menetap di dalam masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan niat tertentu. 

Ulama Hanabilah menyebut i’tikaf sebagai menetapi masjid dengan tujuan untuk taat kepada Allah, dengan syarat ia adalah muslim, berakal, suci dari hadas besar, mumayyiz, berdiam diri minimal satu jam. Dan tidak diperkenankan bagi orang kafir, orang gila maupun anak-anak. Demikian pula dengan ulama Malikiyyah, juga memaknai i’tikaf sebagai kegiatan berdiam diri di dalam masjid.

Adapun dalil pensyariatan i’tikaf sangat banyak dan beragam, dalil Alquran sebagaimana yang telah diutarakan di atas, sebagaimana berikut:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang beri’tikaf di masjid.” (QS. Albaqarah:187)

Atau dalam hadis Nabi SAW.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Ibn ‘Umar bahwa Nabi SAW beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Terkait hukum melaksanakan i’tikaf, ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah memiliki pemahaman yang sama. Menurut keduanya, hukum i’tikaf adalah sunah atau mustahabbah dilaksanakan di setiap waktu. Dan hukum tersebut menjadi wajib ketika seseorang memiliki nadzar untuk melaksanakannya sebelumnya. Pendapat sedikit berbeda diutarakan oleh ulama Hanafiyyah, menurut mereka hukumnya terbagi ke dalam tiga kategori.

Pertama, sunah muakadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan karena Nabi SAW melakukannya. Kedua, mustahabah (dianjurkan) di setiap waktu selain dari sepuluh hari terakhir. Dan yang ketiga adalah wajib, ketika didahului oleh nadzar (atau janji dengan nama Allah).

Demikianlah sekelumit informasi tentang I’tikaf dan hukum melaksanakannya. Semoga bermanfaat bagi semua sobat pembaca Alomuslim, dimanapun berada!

Wallahu a’lam.

Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *