Jihad Dan ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham)

jihad dan isis

Jihad Dan ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham) –  ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham) atau yang juga dikenal dengan IS (Islamic State) adalah kelompok yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Kelompok ini memiliki misi untuk menciptakan Negara Islam yang diakui oleh seluruh umat Islam di dunia. Sayangnya, upaya yang dilakukan sangatlah tidak mencerminkan Islam yang sesungguhnya.

Mereka memberlakukan hukum Islam seperti hudud, rajam dan qishas tanpa memperhatikan syarat-syaratnya. Mereka juga sering melakukan penganiayaan terhadap kelompok yang mereka anggap kafir.

Dua pandangan yang tidak boleh tidak ada dalam doktrin IS adalah tentang jihad dan hijrah. Salah seorang pendiri IS, Abu Mus’ab al-Zarqawi  mengatakan bahwa “Tiada hidup tanpa jihad dan tiada jihad tanpa hijrah.” Untuk merekrut para jihadis dari seluruh dunia, mereka menyuarakan kewajiban jihad kepada seluruh umat Islam di dunia. Hal ini mereka dasarkan kepada hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut.

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Siapa yang meninggal dan tidak pernah berperang serta tidak terlintas sedikit pun di hatinya untuk berperang, maka ia mati dalam kondisi munafik.” (HR. Muslim)

Pertanyaannya selanjutnya adalah apakah benar hadis yang dijadikan alat propaganda IS untuk merekrut jihadis di atas? Lantas bagaimana memahami hadis di atas?

Secara umum hadis di atas adalah hadis shahih menurut mayoritas ulama. Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Baihaqi dan beberapa perawi lain. Yang menjadi persoalan adalah cara memahami hadis di atas sebagaimana IS sangat kurang bisa diterima.

jihad dan isis
ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham)

Menurut Ibn Mubarak, hadis yang bersumber dari Abu Hurairah ini tidak berlaku umum dan hanya boleh diterapkan pada situasi perang. Memahaminya secara mentah-mentah dan tanpa melihat kondisi perang atau damai adalah sebuah kekeliruan besar.

Jika dilihat, mulanya Negara Irak maupun Syam tidaklah bisa dikatakan dalam kondisi peperangan, terlebih Indonesia yang sangat damai. Oleh sebab itu itu tidak tepat jika ada upaya jihad dalam bentuk peperangan melawan rezim pemerintahan baik itu di Irak, Suriah maupun Indonesia.

Dalam khazanah fikih, jihad bukan hanya mengangkat senjata sebagaimana yang dilakukan IS. Mengangkat senjata hanyalah satu dari sekian banyak makna jihad yang dilakukan hanya untuk membela diri dan dalam kondisi darurat. Dalam ‘Ianah al-Thalibin disebutkan bahwa jihad adalah bersungguh-sungguh dalam menyiarkan agama Islam, mengajarkan ilmu syariat, melindungi warga sipil, menebar kebaikan dan perdamaian.

Bahkan menurut Abu Bakar Syatha dalam kitab yang sama menyebutkan bahwa keterlibatan kita dalam menyejahterakan masyarakan, membantu pembayaran gaji dokter, membayar gaji pegawai yang belum dibayar gajinya juga dapat digolongkan kepada jihad.

Oleh karena itu, hadis-hadis jihad yang identik dengan peperangan seharusnya dipahami berdasarkan konteksnya. Ahli Hadis Indonesia, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub menyebutkan bahwa memahami hadis haruslah komprehensif atau menyeluruh. Di dalam Alquran maupun Hadis terdapat dalil yang menganjurkan untuk berperang juga terdapat dalil yang menganjurkan untuk berdamai.

Keduanya harus ditempatkan pada porsinya masing-masing. Dalil peperangan hanya bisa diterapkan dalam kondisi perang dan dalil tentang perdamaian diterapkan dalam kondisi damai.

Demikianlah sekelumit wacana tentang Jihad dan ISIS. Semoga kita tidak salah langkah dalam menerapkan agama Islam dan syariat Islam. Dan semoga Allah senantiasa melindungi bangsa Indonesia khususnya dan seluruh Negara Islam lainnya dari peperangan dan marabahaya lainnya amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *