Kapankah Turun Wahyu Perintah Untuk Shalat
DASAR ISLAM, SHALAT

Kapankah Turun Wahyu Perintah Untuk Shalat?

Alomuslim.com – Sebagian besar masyarakat muslim di negara kita meyakini kalau wahyu perintah untuk mengerjakan shalat turun pada saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Keyakinan ini tidaklah salah sepenuhnya, karena memang pada saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah kepada Rasulullah untuk mengerjakan shalat lima waktu.

Tepatnya pada peristiwa Mi’raj, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di sidratul muntaha Rasulullah menerima perintah shalat wajib yang lima waktu. Peristiwa Mi’raj ini menurut para ulama ahli sejarah, diantaranya menyebutkan, terjadi pada tahun ke-10 atau ke-12 masa kenabian, atau pada fase Mekah sebelum hijrah ke Madinah. Kalau peristiwa Mi’raj terjadi pada tahun itu, apakah Rasulullah sebelum peristiwa Mi’raj tidak melaksanakan shalat?

Menurut Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu, sebelum peristiwa Mi’raj terjadi, beliau shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan riwayat yang pasti pernah melakukan shalat, demikian pula para sahabat beliau. Hanya saja, ada pendapat yang mengatakan bahwa shalat yang dikerjakan pada saat itu adalah baru sebatas shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari. Shalat merupakan termasuk wahyu pertama yang turun.

Salah seorang sahabat, Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu mengatakan bahwasanya pada awal datangnya wahyu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di datangi oleh Malaikat Jibril, lantas mengajarkan beliau tata cara berwudhu. Dan kemudian Malaikat Jibril mencontohkan shalat, maka Rasulullah-pun shalat sebagaimana Jibril shalat. Maka shalat merupakan kewajiban yang pertama bagi umat Islam sebelum datang perintah ibadah yang lainnya.

Ibnu Hisyam, salah seorang penulis sirah nabawi menyebutkan, pada saat itu bila waktu shalat telah masuk, Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat pergi ke lereng-lereng perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan kaum Quraisy.

Mengenai bagaimana tata cara shalat yang dikerjakan pada saat itu, berapa jumlah rakaatnya serta apa yang dibaca, tidak disebutkan dalam beberapa kitab sirah nabawi. Tetapi menurut salah satu riwayat, pada saat itu jumlah rakaat shalat yang dikerjakan adalah dua rakaat. wallahu a’lam.

Referensi :

  • Sirah Nabawiyah, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)
  • Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam (Akbar Media : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *