Kehidupan Umat Manusia Pasca Banjir Besar
KISAH NABI DAN RASUL, KISAH PARA RASUL

Kehidupan Umat Manusia Pasca Banjir Besar Di Masa Nabi Nuh

Alomuslim.com – Setelah banjir besar terjadi pada masa Nabi Nuh alaihissallam yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi hingga pegunungan dan menewaskan semua orang-orang yang tidak beriman, peradaban umat manusia yang baru mulai dibangun dari sebuah pegunungan di wilayah Armenia – Turki, tepatnya dilembah gunung Judi (Ararat).

Dengan hanya menyisahkan manusia beriman di muka bumi, yang diantaranya adalah keluarga Nabi Nuh dan para pengikutnya yang berjumlah 80 orang, maka pada saat itu, merekalah satu-satunya peradaban manusia yang ada di muka bumi. Kemudian Nabi Nuh dan para pengikutnya mendirikan sebuah perkampungan di lembah gunung Judi, dan memberinya nama Tsamamin. Suatu ketika bahasa mereka bercampur baur hingga mencapai 80 bahasa, salah satunya bahasa Arab. Sebagian diantara mereka tidak memahami bahasa yang lainnya, dan Nabi Nuh-lah yang menjadi penterjemah bagi mereka.

Menurut salah satu riwayat disebutkan, bahwa usia Nabi Nuh ketika menaiki kapal adalah 600 tahun, dan setelah peristiwa banjir besar beliau masih hidup hingga 350 tahun. Pada masa 350 tahun inilah Nabi Nuh menyaksikan peradaban manusia yang baru dibangun. Ketiga anak Nabi Nuh melahirkan banyak keturunan yang kemudian tersebar ke seluruh penjuru bumi dan berkembang menjadi bangsa-bangsa di dunia.

Pada saat itu tidak seorangpun dari para pengikut Nabi Nuh yang memiliki keturunan, kecuali yang berasal dari tiga orang anak Nabi Nuh saja. Hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan melalui firman-Nya :

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Sahffat : 77)

Ketiga anak Nabi Nuh yakni Sam, Ham dan Yafits, mereka menjadi nenek moyang dari beberapa bangsa di dunia. Dalam salah satu riwayat, Imam Ahmad menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Sam adalah nenek moyang bangsa Arab, Ham adalah nenek moyang bangsa Habasyah (Ethiopia, Afrika -ed) dan Yafits adalah nenek moyang bangsa Romawi.” (Musnad Imam Ahmad, V/9)

Tetapi Ibnu Katsir, menukil sebuah riwayat yang berbeda dengan riwayat milik Imam Ahmad. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Nuh memiliki anak; Sam, Ham dan Yafits. Sam kemudian memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi. Kebaikan ada pada mereka. Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan Ma’juj. Mereka tidak memiliki kebaikan. Dan Ham memiliki keturunan bangsa Qibthi (Mesir -ed), Sudan dan Barbar (Afrika).”

Setelah berlalu beberapa generasi, dimana kehidupan umat manusia telah tersebar ke penjuru dunia dan menjadi berbangsa-bangsa, pada saat itulah umat manusia kembali melakukan berbagai kerusakan, kemaksiatan dan kesyirikan di muka bumi. Hingga Allah kirim beberapa orang Rasul setelah Nabi Nuh, maka berlakulah ketetapan Allah atas mereka yang berbuat kesyirikan tersebut. Dimana diantara mereka ada yang kembali Allah timpakan azab yang pedih.

Wallahu a’lam.

Referensi : Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir (Ummur Qura : 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *